3.5.14

Kesahajaan Rasulullah

Pribadi Rasulullah SAW itu sederhana. Beliau dan para sahabatnya selalu
hidup dalam keterbatasan, tapi mereka tetap teguh dalam barisan tauhid
walaupun dalam keadaan sangat lapar.

Keserderhanaan pribadi Rasulullah SAW dan para sahabat dikisahkan oleh
Abu Hurairah,”Demi Allah, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, (terkadang)
aku tidur di atas tanah dengan perut lapar, dan (terkadang) aku ikatkan
sebuah batu ke perutku untuk menahan lapar.”
Tidak saja soal makanan, Rasulullah dalam hal tidur, beralaskan tikar dan
rumahnya sangat sederhana. Kalau ada pakaian yang sobek atau koyak,
beliau sendiri yang menambalnya, tidak menyuruh istrinya. Beliau juga
memerah sendiri susu kambing untuk keperluan keluarga maupun dijual.
Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang siap untuk
dimakan, sambil tersenyum Baginda menyingsingkan lengan bajunya
untuk membantu istrinya di dapur. Sayidatuna ‘Aisyah mengisahkan,
“Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumah
tangga.”

Pernah Baginda pulang pada waktu pagi, dan tentulah amat lapar saat itu.
Namun dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah
pun tidak ada, karena ‘Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya,”Belum
ada sarapan, ya Humaira? (Humaira adalah panggilan mesra untuk
sayidatuna ‘Aisyah yang berarti “Wahai yang kemerah-merahan”).
Aisyah menjawab dengan agak serba salah,”Belum ada apa-apa, wahai
Rasulullah.”
Rasulullah lantas berkata,”Kalau begitu, aku puasa saja hari ini.” Tak
sedikitpun tergambar rasa akesal di wajahnya.

Sayidatuna ‘Aisyah mengisahkan kesederhanaan Rasulullah SAW tidak
pernah memenuhi perutnya. Ketika bersama keluarganya, beliau tidak
pernah minta makan kepada istri-istrinya. Jika mereka menghidangkan
makanan , beliau pun makan. Beliau memakan apa yang dihidangkan
mereka, dan meminum apa yang dihidangkan mereka.”
Walau Nabi Muhammad SAW penuh kesederhanaan, bahkan terkadang tak
jarang makan, beliau tetap tegar menjalankan risalah kenabian yang
melekat pada dirinya. Pernah suatu ketika, saat beliau menjadi imam
shalat, para sahabat melihat gerakan Baginda Nabi antara satu rukun ke
satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi
menggerutuk, seolah-olah sendi-sendi pada tubuh manusia yang paling
mulia itu bergeser.

Usai shalat, Sayidina Umar bin Khatab yang tidak tahan melihat keadaan
Nabi, langsung bertanya,”Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah engkau
menanggung penderitaan yang amat berat. Sakitkah, Ya Rasulullah?”
“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar,” jawab beliau dengan
wajah yang senantiasa tersenyum.
“Ya Rasulullah, mengapa setiap kali engkau menggerakan tubuh, kami
mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh engkau? Kami yakin,
engkau sedang sakit,” umar mendesak, cemas.
Akhirnya Rasulullah SAW mengangkat jubahnya. Para sahabat amat
terkejut. Perut Baginda yang kempis, kelihatan dililit sehelai kain yang
berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang
menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali tubuh Nabi bergerak.
“Ya Rasulullah, adakah bila engkau mengatakan lapar dan tidak punya
makanan kami tidak akan mendapatkannya buat engkau?”
Lalu Baginda Nabi menjawab dengan lembut, “Tidak, para sahabatku. Aku
tahu, apapun akan engkau korbankan demi rasulmu. Namun apakah akan
aku jawab di hadapan Allah nanti bahwa aku, sebagai pemimpin, menjadi
beban kepada umatnya? Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku,
agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini, lebih lebih lagi
tiada yang kelaparan di akhirat kelak.”

Mengenai makan dan minum, Rasulullah SAW adalah orang tidak
kecanduan terhadapnya. Nabi menganjurkan agar mengurangi keperluan
makan minum dan tidur.
Al Miqdam ibn Ma’dikarib berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda,”Anak
Adam tidak memenuhi suatu bejana yang lebih buruk dari perutnya.
Cukuplah bagi anak Adam beberapa potong makanan untuk menguatkan
punggungnya. Jika memerlukan lebih banyak lagi, sepertiganya untuk
minum dan sisanya untuk bernafas. Sebab akibat dari banyak makan dan
minum adalah banyak tidur.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
(Aji Setiawan/nu.or.id)

15.4.14

Menimbang Partai Islam

SEPERTI dugaan banyak orang, partai (berbasis massa)
Islam tidak ada yang menjadi pemuncak hasil Pemilu 2014, tetapi hasil
perolehan suara mereka mengejutkan.
Bertentangan dengan hasil survei yang menyatakan rendahnya perolehan
suara mereka, yang terjadi justru pelonjakan suara tajam pada PKB. PPP
dan PAN naik sedikit, PKS walau diterpa badai hanya turun sedikit. Hanya
PBB yang suaranya di bawah ambang batas: 3,5%.
Pada Pemilu 1955, dua partai Islam menjadi pemenang kedua dan ketiga.
Jumlah perolehan suara partai Islam sedikit di atas 43% dari jumlah pemilih.
Angka ini menurun pada pemilu-pemilu era Orde Baru. Pada Pemilu 1999,
angka itu menjadi 37,4%, Pemilu 2004 menjadi 38,4%, dan Pemilu 2009
angka ini menjadi 29,3%. Kini, meningkat menjadi sekitar 32% berdasarkan
hasil hitung cepat.

Dari 12 partai peserta Pemilu 2014, yang dianggap sebagai partai Islam
adalah PPP, PKS, dan PBB. Partai berbasis massa Islam ialah PKB dan PAN.
PPP dan PKB dapat dianggap sebagai lanjutan dari Partai NU. PAN, PKS,
dan PBB dapat dianggap sebagai lanjutan dari Partai Masyumi.
Dinamika Pancasila dan Islam
Pemilu 1955 membuat konfigurasi kelompok partai berdasarkan aliran:
Islam, komunis, sosialis, Pancasila. Pasca 1965, partai beraliran komunis
dan sosialis sudah tidak ada. Muncul kelompok politik baru, yaitu Golongan
Karya, yang bekerja sama dengan ABRI. Partai lain ialah PDI (fusi PNI
dengan Parkindo, Murba, Partai Katolik, dan IPKI) serta PPP (fusi NU dengan
Parmusi, PSII, dan Perti). Saat itu PPP, termasuk NU, masih menginginkan
Islam sebagai dasar negara, bukan Pancasila.
Pada 1973, diajukan RUU Perkawinan yang ditolak oleh PPP dan ormas-
ormas Islam karena sejumlah ayat dalam RUU itu bertentangan dengan
syariat Islam. Perdebatan di DPR menjadi ramai karena massa sejumlah
ormas Islam menyerbu ruang Sidang Paripurna DPR. Pak Harto kemudian
menyetujui keinginan ulama- ulama yang menghendaki Pasal 1 dari UU itu
menentukan bahwa perkawinan adalah sah jika dilakukan sesuai dengan
hukum agama yang dipeluk. UU itu adalah UU pertama yang memberikan
ruang bagi masuknya ketentuan syariat Islam yang partikular.

Pada akhir 1984, Muktamar NU di Situbondo menerima asas Pancasila dan
menyatakan bahwa NKRI berdasarkan Pancasila adalah bentuk final dari
negara yang diperjuangkannya. PPP dan ormas- ormas Islam lain (kecuali
HMI MPO) mengikuti langkah NU: menerima asas Pancasila. Perubahan
sikap ormas dan orpol Islam terhadap Pancasila itu memberikan dampak
berupa perubahan sikap yang besar dalam memandang partai Islam dan
partai Pancasila. Sikap politik warga NU dan ormas Islam lain mencair.
Dalam sistem politik Turki yang 97% penduduknya Muslim, pengertian
sekuler lebih ketat dibandingkan di Indonesia. Di sana, dalam UUD mereka
secara tegas dinyatakan bahwa Turki adalah negara sekuler. Di sana tidak
diatur dalam UU bahwa perkawinan atau pernikahan hanya sah kalau
dilakukan sesuai hukum Islam. Semestinya pernikahan bisa dilakukan di
kantor catatan sipil, tetapi sebagian besar tetap menikah secara Islam.
Pada 1997, Partai Kesejahteraan di bawah Erbakan dilarang oleh militer
karena membawa simbol dan semboyan (jargon) Islam. Saat itu Muslimah
tidak boleh ke kantor atau kuliah dengan memakai jilbab.
Erdogan, melalui Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), kemudian tidak
lagi membawa simbol dan semboyan Islam. Tema yang mereka usung
adalah tema- tema masyarakat luas, seperti keadilan, kesejahteraan, HAM,
dan demokratisasi. Rekam jejak hasil perolehan suara AKP amat
menakjubkan. Pada Pemilu 2002, AKP meraih 34,3% suara. Pada Pemilu
2007, meraih 46,6% suara.

Di kita, dalam kaitan kebijakan ekonomi yang ditawarkan partai-partai
peserta pemilu, yang paling lengkap dan paling banyak diketahui
masyarakat baru Partai Gerindra. Mereka memasang iklan satu halaman
penuh di banyak koran, termasuk koran daerah, juga di televisi. Partai-partai
lain, termasuk partai Islam dan yang berbasis massa Islam, tidak ada yang
memasang iklan seperti itu.
Tidak ada partai Islam ataupun berbasis massa Islam yang coba
mengetengahkan konsep ekonomi Islam yang menurut saya amat sesuai
dengan konsep ekonomi konstitusi. Kalau partai-partai Islam menawarkan
secara luas dan intensif konsep ekonomi Islam, yang intinya adalah
pemenuhan hak-hak ekonomi-sosial-budaya, mewujudkan keadilan sosial,
dan  pemerataan kesejahteraan, niscaya mereka akan lebih banyak dipilih
oleh masyarakat.

Perlu tokoh
Terkait fenomena PKB, tidak bisa lepas dari kehadiran sejumlah tokoh yang
ikut mengampanyekan PKB. Selain karena masyarakat NU tahu bahwa PKB
didirikan Gus Dur, juga karena sosok Rhoma Irama dan  Mahfud MD yang
aktif berkampanye serta gencarnya iklan shalawat. Selain itu, KH Hasyim
Muzadi yang aktif turun ke berbagai basis umat NU untuk mengajak mereka
memilih PKB dan kembalinya tokoh seperti Gus Yusuf Khudlory menjadi
fungsionaris PKB menunjukkan perlunya tokoh dalam suatu partai, seperti
PKB.
Beberapa partai juga berkembang dengan mengandalkan ketokohan
seseorang, seperti Demokrat (SBY) dan Gerindra (Prabowo). PDI-P bisa
tetap mencorong karena mengusung  nama Bung Karno dan kepemimpinan
Megawati. Partai Golkar punya  jaringan kuat sehingga tidak bergantung
kepada tokoh.
PKS adalah partai yang organisasinya berjalan dengan baik. Kaderisasinya
juga. Namun, untuk bisa berkembang, PKS perlu lebih luwes dan mendekat
ke tokoh dan ulama NU ataupun Muhammadiyah. PKS memang tak
mengandalkan tokoh, tetapi kini punya ”presiden” yang masih muda dan
cukup banyak pengalaman. Dialah yang mampu memulihkan rasa pede
yang goyah saat pimpinan PKS sebelumnya terkena kasus.
Akan lebih baik jika jumlah partai, termasuk partai Islam, dikurangi pada
pemilu mendatang. Itu dilakukan dengan menaikkan ambang batas minimal
perolehan suara. Kalau ambang batas perolehan suara dinaikkan dari 3,5%
ke 5%, partai-partai yang ada masih akan tetap bertahan. Kalau dinaikkan
lagi menjadi 7,5%, mungkin tinggal dua partai (berbasis massa) Islam yang
masih bertahan.
Karena itu, harus mulai dipikirkan kemungkinan penggabungan secara
sukarela daripada hilang dari peredaran. Kalau pada pemilu mendatang
partai-partai Islam dan yang berbasis massa Islam tidak melakukan
kegiatan yang diusulkan di atas (menawarkan kebijakan ekonomi secara
terbuka dan meluas), amat mungkin terjadi perolehan suara mereka akan
mandek, bahkan menurun. Kecuali ada tokoh Islam yang punya pengaruh
kuat menjadi pemimpin atau ikonnya.

Oleh Ir. Shalahudin Wahid, artikel dan image bersumber dari kompas.com

11.4.14

Nahdliyins' comeback galvanizes PKB's voter turnout

JAKARTA -- The National Awakening Party (PKB), which
won 4.94 percent votes and ranked seventh in the 2009 legislative election,
surprisingly rose to the fifth position and secured 9.5 percent of the votes in
Wednesday's election.
The increase in PKB's vote turnover to about 92 percent raised questions
about the strategies PKB had adopted, which earned it a position higher
than that of the 2009 legislative election. It even overshadowed the ruling
Democratic Party (PD) in the fourth place, based on different unofficial quick
vote counts.
Some said that the PKB was able to gain more votes due to the popularity of
artist Ahmad Dani and self-styled Dangdut singer King Rhoma Irama, as
well as popular figures such as former Constitutional Court chairman Mahfud
MD and former vice president Jusuf Kalla.
However, executive director of the Indo Barometer research institute
Mohammad Qodari said the dominant factor that helped the PKB galvanize
its voter turnout was the support of Nahdliyins (members of the Indonesian
largest Muslim organization Nahdlatul Ulama/NU).
Nahdlatul Ulama, which was estimated to have members of about 35 to 40
million, was the Muslim organization instrumental to the birth of the PKB.
According to Qodari, the nearly 100 percent increase in the vote gained by
the PKB in Wednesday's legislative election was due to the support of the
Nahdlatul Ulama Muslim organization (NU).
"The increase in the votes gained by the PKB was not caused by Rhoma
Irama but by the support of the Nahdlatul Ulama (NU). The survey result on
the electability of the 'Dangdut' singer was low," Mohammand Qodari said
here on Thursday.
Meanwhile, communications expert Hendri Satrio of the Paramadina
University said the PKB successfully picked influential figures as its vote
getter, such as Rhoma Irama, Mahfud MD and Ahmad Dani. This made the
PKB appear different. PKB's people's convention also contributed to its
image, he added.
"If the Islamic parties established a central team, the PKB will most likely
lead it. Possibly, the PKB's strategy won the heart of some supporters so
that the PDIP's expectation to reap significant votes through what it called
the "Jokowi" effect was not completely successful," he added referring to the
presidential candidate of the Indonesian Democratic Party of Struggle
(PDIP).
"Jokowi effect" referred to the expectation that the nomination as a
presidential hopeful of popular Jakarta Governor Joko Widodo, better known
as Jokowi, will earn PDIP many votes in the legislative elections.
"PKB had built an effective political communication strategy by involving key
figures," Hendri Satrio said here on Thursday.
However, Executive Director of the Indo Barometer Mohammad Qodari said
the achievement of the PKB in attaining 9.5 percent of the votes in
Wednesday's legislative elections, from about 5 percent in the 2009
elections, indicated that "Nahdliyins" had returned to the PKB under the
leadership of Muhaimin Iskandar.
The votes of NU members split during the "odd" period between those who
supported Muhaimin and those who supported Abdurrahman Wahid, better
known as Gus Dur.
The Indo Barometer executive director noted that the NU had played an
important role in the development of the PKB, because it was the NU that
gave birth to the PKB during the leadership of Abdurrahman Wahid.
"NU was the country's largest Muslim organization because about 30
percent of the Indonesian Muslims were NU members," Qodari said.
Qodari was of the view that the return of the Nahdliyins to channel their
political aspirations to the PKB had caused the increase in PKB's vote gains,
which almost reached 100 percent. This was due to the efforts of its general
chairman Muhaimin Iskandar, who was able to maximize his party's existing
potential.
According to Qodari, Muhaimin was prepared to accommodate figures such
as Rhoma Irama and Ahmad Dani during its campaigns and provide a post
for the chief of the Lion Air airline, Rusdi Kirana, who had financial support. It
also benefited from the popularity of former member of the Constitutional
Court Mahfud MD and former vice president Jusuf Kalla.
"PKB also benefited from the popularity of the Chairman of NU Executive
Board (PBNU) Said Aqil Siradj, who appeared in PKB's official campaign
advertisements," Qodari said.
Referring to the results of Kompas' Exit Polls analysis on the result of
political parties' vote gains, he said the Nahdliyin support played a dominant
role in contributing to the PKB's vote gain increase.
Greg Fealy, a senior lecturer in Indonesian politics at the College of Asia and
the Pacific in the Australian National University, said in an article, "The
puzzle of Rusdi Kirana and Islamic Politics," the most intriguing factor in the
party's turnaround was the involvement of Rusdi Kirana, a Chinese non-
Muslim and the chief of Indonesia's fastest-growing airline Lion Air.
Fealy, whose article was quoted in the INSIDE STORY published by the
Swinburn Institute for social research of Australia, said Rusdi joined the
party with great fanfare in January 2014 claiming that he was a friend of the
late Gus Dur and an admirer of PKB's brand of religious pluralism.
Rusdi was immediately appointed deputy chairman of the party and set
about using his substantial wealth and connections for the party's electoral
advantage, Fealy wrote.
He said Rusdi appeared also to be using the PKB as a means to gain
bragging rights over one of his rivals, the media magnate Hary
Tanoesoedibjo, who joined ex-general Wiranto's Hanura Party and quickly
became its vice-presidential candidate.
Fealy pointed out that Rusdi had made no secret in PKB circles of his
determination to see the PKB win more votes than Hanura, something the
polls suggest will be easily achieved.
That's why PKB success was phenomenal and extraordinary.
According to communications expert Hendri Satrio, PKB's achievement in the
2014 legislative elections was extraordinary and caused the image of other
Islamic parties to shine again. (Andi Abdussalam)

Red: Julkifli Marbun

Sumber: Antara

2.4.14

MARI BICARA MELAWAN LUPA

MULAI,,,,,
Dulu, kau bilang jangan pilih partai yang calegnya non muslim karena tidak
islami, tapi sekarang kau pasang caleg non muslim dengan aneka dalih

Dulu, ketika Pilkada DKI, dalam kampanye PKS, HNW (Hidayat Nur Wahid) bilang bahwa Foke (Fauzi bowo) Omong Doang dan tidak bisa membawa perubahan DKI,,
Namun, tiba2, di putaran kedua kau berbalik jadi koalisi dan bilang Foke lebih siap jadi Gubernur DKI

Dulu, kau puji KPK yang tetap menunjukkan profesionalisme dan progresifitas dalam pemberantasan korupsi,,
Lalu, tiba2, Jubirmu FH (Fahri hamzah) setiap hari berkata: Bubarkan KPK karena
tidak netral dan tidak becus bekerja…,,sejak KPK menangkap LHI (Luthfi Hasan Ishaaq)

Dulu, secara berjamaah kau mengaku tidak kenal Ahmad Fathanah (AF)
tetapi, Sertifikat tanah milik presidenmu ditemukan di tas AF, dan
akhirnya Bekas Presiden PKS itu terpaksa berkata: Iya, saya kenal.
Kemudian, tiba2, beredar foto kalian sedang makan bareng, dan FH pun akhirnya berkata: Saya Terpaksa Kenal.
Dan berikutnya, di dalam sidang, penyidik KPK bilang kalau HNW dan AF ikut naik pesawat, dan HNW pun terpaksa berkata: Iya, saya kenal.

Dulu kau bilang bahwa kasus LHI adalah konspirasi besar untuk
menghancurkan PKS,
Kemudian dalam perjalanan kasus, peran LHI & AF semakin terang benderang, dan bukti2 mulai bermunculan.
Lalu, tiba2, secara berjamaah AF, FH, dan HNW berkata kasus itu
adalah urusan pribadi LHI, tidak ada kaitan dengan institusi PKS

Dulu, kau membantah bahwa Darin Mumtazah (DM) itu istri LHI. Bahkan kau bilang ini adalah fitnah dan merupakan Festival KPK,
Bahkan situs pkspiyungan , situs propagandamu, memposting pic seorang Angry Sipelebegu yang mirip LHI, sampai yang bersangkutan mencak2.
Lalu, saat terbukti bahwa DM adalah Istri LHI, tiba2 kalian berbalik ucap
dengan membela dan bilang kalau itu adalah Poligami sah nan teladan.

Kalian bilang jangan pilih PDIP karena dibelakangnya penuh konglomerat Cina, cukong liberal dan pro asing. But the bad news is...
Tapi kalian lalai bahwa pemenang tender proyek geothermal ciremai Jabar
yang digawangi oleh Aher adalah Chevron.

Kalian Lalai, bahwa ditengah2 teriakan penolakan para kader PKS terhadap proyek RS.Siloam di Padang , Majelis Syuro kalian (Hilmi Aminudin) malah ikut meresmikan proyek grup LIPPO tersebut.

Kalian juga lalai, kalau PKS adalah satu satunya partai yang berkoalisi
dgn PDIP di Pilgub Bali 2013...dan akhirnya kalah, dan sekarang tiba-tiba kalian menunggu klarifikasi megawati, sedangkan kalian tidak pernah klarifikasi semua
kemunafikan kalian..

31.3.14

AL AZHAR SERUKAN KEMBALI KE ISLAM MODERAT

Mosleminfo, Kairo —Dalam sambutannya pada pembukaan konferensi internasional ke-23 yang diselenggarakan oleh Majelis Tinggi Urusan Agama Islam Mesir, Grand Shaikh Al Azhar Dr. Ahmad Tayib menegaskan bahwa bangsa Arab sedang mengalami penderitaan besar lantaran maraknya fatwa tanpa ilmu dan sikap ektremisme dari mereka yang kita anggap sudah meninggalkan pemikiran mereka yang menyimpang pada tahun 90-an itu. Beliau juga mengatakan bahwa bencana takfir (pengafiran) ada di Afrika dan Asia, dimana terjadi banyak pembunuhan dan kejahatan yang dilakukan atas nama Islam dengan dalih jihad dan kafir. Hal itu dieksploitasi oleh media Barat untuk menebarkan isu bahwa Islam adalah agama penuh pertumpahan darah. Dalam sambutannya tersebut, Grand Shaikh juga menjelaskan bahwa penyiksaan yang kejam pada tahun 60-an terhadap aktivis Islam, menyebabkan munculnya pemikiran takfir. Hal itu dapat dilihat dari sejumlah buku yang jika ditulis dalam suasana merdeka maka akan menjadi buku-buku yang lebih menarik. Buku-buku itu menegaskan akan warisan ekstremisme yang pernah ada dalam sejarah kaum Khawarij. Grand Shaikh mengatakan bahwa bencana ektremisme dan pertumpahan darah bukan merupakan hal yang baru dalam umat Islam. Akan tetapi sudah ada sejak munculnya Khawarij, sebagai golongan ekstrem pertama yang hanya mempersoalkan hal-hal lahiriyah dan meninggalkan hal-hal yang prinsip. Masyarakat kita tidak mengenal kelompok takfiri yang mengafirkan masyarakat pada tahun 70-an. Kelompok takfiri tersebut lahir di dalam penjara lantaran siksaan berat yang mereka terima. Sebagian mereka mendukung penguasa dan sebagian yang lain mengafirkan mereka lantaran dukungan terhadap pemerintah yang kafir. Mereka menuntut agar keluar dari kekufuran sebab mendukung pemimpin mereka. Pada tahun 70-an mereka muncul sebagai antitesis dari siksaan yang mereka alami. Pemikiran mereka lahir di masa-masa krisis. Pemikiran takfiri mulai muncul pada tahun 68 yang diprakarsai oleh Jamaah Takfir wa Hijrah. Grand Shaikh mengatakan bahwa al-Azhar merupakan duta dunia sepanjang masa, tidak membedakan antara ajaran satu dengan yang lain untuk menghadapi kerusakan moral dan pemikiran takfiri. “Kita tidak memiliki pilihan melainkan terus berusaha dengan sebenar-benarnya untuk menyatukan umat Islam guna melawan berbagai bahaya yang dihadapi oleh umat Islam sesuai kemaslahatan negara-negara Arab saat ini,” ungkap Grand Shaikh, sebagaimana dikutip oleh harian ahram. Grand Shaikh menjelaskan bahwa persatuan umat, tujuan syariat, dan memerangi pemikiran takfiri adalah satu-satunya cara bagi al-Azhar untuk menyatukan umat dan bersinergi dengan ulamanya untuk melawan berbagai tantangan yang dihadapi. Grand Shaikh menyerukan untuk menganut ajaran Islam yang moderat sesuai seruan Al-Qur’an dan Sunnah. Beliau menyitir salah satu ayat dalam Al- Quran yang artinya: “Dan demikianlah kami menjadikan kalian sebagai umat yang moderat (pertengahan).” Grand Shaikh menambahkan bahwa pemikiran takfir dan dampak negatifnya seperti pertumpahan darah bukan hal yang baru dalam masyarakat Islam. Kita semua telah mempelajari tentang pemikiran Khawarij dan berbagai penyimpangan mereka dalam persepsi dan pemahaman salah mereka perihal hubungan antara pengertian iman sebagai dasar dan perbuatan sebagai cabangnya. Mereka hanya berpikir secara tektual dan meninggalkan hal-hal lainnya. Saat ini, pemikiran takfiri muncul kembali di tangan para pemuda yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang Islam melainkan hanya sebatas namanya saja. Takfir adalah intrumen paling cepat untuk mengungkapkan krisis yang mereka alami. Segala vonis yang mereka keluarkan tidak muncul dari pemikiran yang benar, namun lahir dari sebuah tekanan dan paksaan. Grand Shaikh juga menegaskan, bahwa perbedaan antara akidah kaum takfiri dengan kelompok umat lainnya, adalah hubungan amal perbuatan dengan inti dan hakikat dari iman. Dalam perspektif Ahlussunnah wal Jamaah dikatakan bahwa iman adalah membenarkan Allah, para rasul, kitab-kitab, dan para malaikat-Nya. Tidak boleh mengafirkan seorang muslim selagi di hatinya ia meyakini hal itu.

26.3.14

INILAH ALASANNYA MENGAPA PERLU BER"NAHDLATUL ULAMA"

Maulana al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya pada
Harlah NU di Kota Pekalongan pernah menyampaikan perihal pentingnya warga Indonesia
memiliki wadah Nahdlatul Ulama, wadah bagi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Berikut
adalah kutipannya:
Menjelang berdirinya NU beberapa ulama besar kumpul di Masjidil Haram, ini sudah tidak
tertulis dan harus dicari lagi narasumber-narasumbernya, beliau-beliau menyimpulkan
sudah sangat mendesak berdirinya wadah bagi tumbuh kembang dan terjaganya ajaran
Ahlussunnah wal Jama’ah. Akhirnya diistikharahilah oleh para ulama Haramain. Lalu
mengutus Kiai Hasyim Asy’ari untuk pulang ke Indonesia agar menemui dua orang di
Indonesia. Kalau dua orang ini meng-iya-kan maka  jalan terus, kalau tidak maka jangan diteruskan.
Dua orang tersebut adalah al-Habib Hasyim bin Umar bin Thoha bin Yahya Pekalongan dan Syaikhuna Mbah Kiai Kholil Bangkalan Madura.
Oleh sebab itu, tidak heran jika Mukatamar NU yang ke-5 dilaksanakan di Pekalongan
tahun 1930 M, untuk menghormati Habib Hasyim yang wafat pada itu. Itu suatu
penghormatan yang luar biasa. Tidak heran kalau di Pekalongan sampai dua kali menjadi
tuan rumah Muktamar Thariqah. Tidak heran karena sudah dari sananya.

Dari kiai irfan
Kok tahu sejarah ini dari mana?, lebih jauh habib yang sering tampil nyentrik dan dekat dengan semua kalangan ini menceritakan sumbernya dari seorang yang shaleh, yakni Kiai Irfan.
Suatu ketika saya duduk-duduk dengan Kiai Irfan, Kiai Abdul Fattah dan Kiai Abdul Hadi.
Kiai Irfan bertanya pada saya: “Kamu ini siapanya Habib Hasyim?”
Yang menjawab pertanyaan itu adalah Kiai Abdul Fattah dan Kiai Abdul Hadi: “Ini cucunya
Habib Hasyim, Yai.”
Akhirnya saya diberi wasiat, katanya: “Mumpung saya masih hidup, tolong catat sejarah
ini. Mbah Kiai Hasyim Asy’ari datang ke tempatnya Mbah Kiai Yasin. Kiai Sanusi ikut serta
pada waktu itu. Di situ diiringi oleh Kiai Asnawi Kudus, terus diantar datang ke Pekalongan.
Lalu bersama Kiai Irfan datang ke kediamannya Habib Hasyim. Begitu KH. Hasyim Asy’ari
duduk, Habib Hasyim langsung berkata: “Kyai Hasyim Asy’ari, silakan laksanakan niatmu
kalau mau membentuk wadah Ahlussunnah wal Jama’ah. Saya rela, tapi tolong saya
jangan ditulis.” Begitu wasiat Habib Hasyim.
Kiai Hasyim Asy’ari pun merasa lega dan puas. Kemudin Kiai Hasyim Asy’ari menuju ke
tempatnya Mbah Kiai Kholil Bangkalan. Mbah Kyai Kholil bilang sama Kyai Hasyim Asyari:
“Laksanakan apa niatmu. Saya ridha seperti ridhanya Habib Hasyim. Tapi saya juga minta
tolong, nama saya jangan ditulis.”
Lantas Kiai Hasyim Asy’ari bertanya: “Bagaimana Kiai, kok tidak mau ditulis semua?”
Mbah Kiai Kholil pun menjawab: “Kalau mau tulis silakan, tapi sedikit saja.”
Itu tawadhu’nya Mbah Kiai Ahmad Kholil Bangkalan. Dan ternyata sejarah tersebut juga
dicatat oleh Gus Dur,” pungkas Kiai Irfan.
Inilah sedikit perjalanan Nahdlatul Ulama. Inilah perjuangan pendiri Nahdlatul Ulama. Para
pendirinya merupakan tokoh-tokoh ulama yang luar biasa. Makanya hal-hal yang demikian
itu tolong ditulis, biar anak-anak kita itu tidak terpengaruh oleh yang tidak-tidak. Sebab
mereka tidak mengetahui sejarah. Anak-anak kita saat ini banyak yang tidak tahu, apa sih
NU itu? Apa sih Ahlussunnah itu? Lha ini permasalahan kita. Upaya pengenalan itu yang
paling mudah dilakukan dengan memasang foto-foto para pendiri NU, khususnya foto
Hadhratus Syaikh Kiai Hasyim Asy’ari.
Di kesempatan lain bersumber dari saudara Hijrah Yanuar Iskhaq, bahwa Kiai Ahmad
Syafiq Pekalongan, seminggu sebelum Maulid Akbar berlangsung, sekitar jam 1 dinihari
pernah didawuhi Abah Habib Luthfi bin Yahya: “Gus, aku iki hampir 70 tahun, wis pingin
liren, pengin mulang ning pondok, ndandani sholat sing iseh okeh salahe ning masyarakat.
Tetapi mben wengi kok Kanjeng Nabi Saw. hadir nepuk-nepuk pundakku serto dawuh: “Bib,
tolong urusi NU, urusi NU.”
Saya terjemahkan begini: Gus, saya sudah hampir 70 tahun, sudah ingin istirahat, ingin
mengajar di pesantren, memperbaiki shalat yang masih banyak salahnya di masyarakat.
Tetapi setiap malam Nabi Muhammad Saw. selalu hadir seraya menepuk-nepuk pundakku
dan berkata: “Bib, tolong urusi NU, urusi NU.”

Dikisahkan kembali oleh
Sya’roni As-Samfuriy, Cilangkap Jaktim 21 Maret 2014







25.3.14

ULAMA WAHABI (IM) SALMAN AL OUDA INVASI KE INDONESIA

Ulama Ikhwanul Muslimin (IM) asal Saudi Arabia Shaikh Salman
al-Ouda 'invasi' dakwah ke Indonesia. Melalui PT. Jaya Asia Konsultan, sebuah
perusahaan yang ditunjuk secara resmi olehnya sebagai official partner dalam menjalankan
program dakwah berusaha memperkenalkan diri diberbagai media, khususnya media Islam
non-Aswaja seperti Islampos.com, Dakwatuna.com dan sejenisnya.
Pihaknya berusaha memulai berdakwah di Indonesia melalui media sosial twitter dan
facebook. Serta mengaku tidak akan masuk dalam ranah politik atau ikut campur urusan
negara, personal, madzhab atau agama lain. Semuanya dianggap bisa mengakibatkan
madzarat yang lebih besar.
Menurut rilis yang dikirim ke MMN, materi yang akan disajikan adalah Aqidah Al Islamiyah,
Ibadah Harian, Muamalah, Akhlaqul Karimah, Dunia Muslimah dan Keluarga, serta isu atau
berita nasional dan international.
Partner ulama IM di Indonesia berharap kehadiran ulama mereka diterima di tengah-tengah
masyarakat Indonesia. Sejumlah buku Shaikh Salman al-Ouda diterbitkan oleh Mutiara
Publishing.

Sekilas tentang Salman Al-Ouda
Syaikh Salman Al-Audah atau Salman bin Fahd bin Abdullah Al-Ouda / ﻥﺎﻤﻠﺳ ﻦﺑ ﺪﻬﻓ ﻦﺑ ﺪﺒﻋ
ﻪﻠﻟﺍ ﺓﺩﻮﻌﻟﺍ alias Abu Mu'ad, lahir pada bulan Jamadil Ula 1376 H atau 1955/1956 M di al-
Basr, dekat kota Buraydah di al-Qassim di pusat Arab Saudi. Sebagaimana keterangan
disitus Wiki Ikhwanul Muslimin .
Di Burayda Institute, ia belajar tata bahasa Arab, fiqh Hanbali dan hadits di bawah
bimbingan ulama setempat. Dia menyelesaikan B.A., M.A. dan Ph.D. dalam hukum Islam di
Universitas Imam Muhammad bin Sa'ud. Ia juga pernah belajar kepada sejumlah ulama
wahhabi seperti Abdul Aziz bin Abdullah ibn Baaz, Muhammad bin al-Utsaimin, Abdullah
Abdurrahman Jibrin, dan Sheikh Saleh al-Balehiy.
Redaktur : Ibnu Manshur/muslimedianews

Kisah taubatnya sang pemabuk

Jika ada kemauan pasti ada jalan. Entah kapan awal mula pepatah masyhur ini muncul. Tetapi, kebenarannya teruji berkali-kali di hampir setiap zaman. Karena “mau”, seorang pemuda pemabuk pada masa Umar bin Khathab, tak hanya mendapat “jalan” tapi juga keajaiban. Kisah tersebut bermula ketika Umar bin Khathab berjalan-jalan di lorong Kota Madinah. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang pemuda. Amirul Mu’minin tahu, ada sesuatu di balik bajunya. Umar bin Khathab yang penasaran pun menanyakan kepada sang pemuda perihal benda yang disembunyikan tersebut. Karena malu, pemuda ini tak lantas menjawab pertanyaan umar. Siapa tak gugup, ketika kepergok membawa minuman keras (khamr) di hadapan “Singa Padang Pasir”? “Tuhanku, jangan Engkau membuka rahasiaku. Dan janganlah Engkau permalukan diriku di hadapan Umar bin Khathab. Tutuplah semua itu. Dan aku berjanji, tidak akan minum minuman keras lagi untuk selama-lamanya,” gumam pemuda itu dalam hati. Kehadiran Umar ternyata sanggup menggerakkan komitmen pemuda itu untuk mengakhiri perbuatan terlarangnya. Tekadnya untuk bertobat betul-betul sudah bulat. Tapi, sang pemuda tak bisa menghindar dari pertanyaan Umar bin Khathab. “Ya Amiral-Mu’minin, aku membawa cukak,” aku sang pemuda berusaha menutupi aibnya. “Bukalah hingga aku mengetahui apa sebenarnya yang berada di balik bajumu.” Pemuda itu lalu mengeluarkan benda yang ada di balik bajunya. Ajaib, minuman keras itu tiba-tiba sudah berubah menjadi cuka segar yang bisa dinikmati. Cerita ini bisa kita simak di kitab Al-Minahus Saniyah karya Abdul Wahhab Asy-Sya’rani terjemahan Zaid Husein Al-Hamid. Hikayat di atas merupakan secuil bukti bahwa kejahatan seseorang sesungguhnya sudah menemukan jalan terang sejak niat memperbaiki diri menghujam di dada. Namun demikian, sebagai niat, ia tetaplah pada level permulaan. Abdul Wahhab Asy-Sya’rani mengurai lagi tahapan-tahapan tobat untuk mencapai pada puncak kesucian diri. Pertama adalah bertobat dari dosa-dosa besar, kemudian dari dosa-dosa kecil, dari perkaran yang dibenci (makruh), lalu dari perkara yang menyalahi keutamaan. Selanjutnya, bertobat dari prasangka baik terhadap diri sendiri, dari prasangka bahwa dirinya adalah kekasih Allah, dari prasangka bahwa dirinya sudah benar-benar bertobat, dan akhirnya bertobat dari kehendak hati yang tidak diridlai oleh Allah. Puncaknya adalah bertobat setiap kali alpa dari mengingat Allah, meskipun hanya sekejap.(nu online)image(guetau.com)
Get this blog as a slideshow!