Former General Chairman of the Central Board of Nahdlatul Ulama ( PBNU) KH Abdurrahman "Gus Dur" Wahid recently said that the Indonesia' s biggest Muslim organization Nahdlatul Ulama (NU) would never establish an Islamic state in the country. Gus Dur made the statement as meeting with a number of United States senators to convey the national and Islamic missions of the Nahdliyin-based organization. Gus Dur who is also the chairman of the Advisory Board of the National Awakening Party (PKB) said since ten years before Indonesia's independence NU had again and again decided that Muslims had no such obligation to establish an Islamic state. "In 1935 or ten years before Indonesia's independence the NU's 9 th Congress held in Banjarmasin (South Kalimantan) decided that Muslims were not obliged to establish Islamic state. For that reason, we have seen many religions in Indonesia," Gus Dur told reporters in the PKB's headquarters, Jln. Kalibata Timur Jakarta on Wednesday. He was of view that Indonesia's stand on religion was very clear as affirmed in the nation's ideology, Pancasila. As reported scores of the US senators meeting with Gus Dur during his US visit were Robert Wexler, Suemyrick, Joe Rockefeller, Christopher Bone, the influential senator in making US foreign policies. During his visit in the country, Gus Dur also received Medal of Valor for his struggle for world peace and tolerance. The medal was given by Simon Wiesenthal Foundation. Other figure receiving the same medal is former bishop of Anglican Church of Canterburry, UK. The Indonesian former president received the medal on Award Night in Los Angeles. In the meantime Gus Dur also held talks and had a dinner with Hollywood's producers like Rocky's Robert Chartoff. The award night was attended by some 1000 people. Amongst the attendees were Hollywood actors such as, Will Smith, Ron Howard, and Jeffry Katzenberg. Gus Dur on the sidelines of his US visit had a great time to hold talks with US Vice President Dick Cheney in the White House. Gus Dur also explained his meeting with Temple University to immortalize his name as center for inter-religious dialogue studies.
8.8.09
GUSDUR: NU Will Never Establish Islamic State
Posted By
Abdurrahman Haidar
On
Sabtu, Agustus 08, 2009
5.8.09
Sejarah Islam
Posted By
Abdurrahman Haidar
On
Rabu, Agustus 05, 2009
Eropa di awal Kebangkitannya menghadapi banyak sekalitantangan, terutama dari negara – negara islam , terutama kerajaan Usmani yang berpusat di Turki.kemudian setelah beberapa tahun negara – negara Eropa menjadi maju dalam dunia perdagangan, karena tidak tergantung lagi pada jalur lama yang di kuasai Islam Bidang perekonomian bangsa – bangsa Eropa semakin maju dengan dibukanya daerah – daerah baru. Mulailah kemudian kemajuan negara – negara Eropa melampaui kemajuan negara - negara Islam yang sejak lama menagalami kemunduran. Dan kemajuan yang diperoleh oleh negara – negara Eropa tersebut dipercepat dengan penemuan – penemuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan. Satu demi satui negara – negara Islampun jatuh dibawah kekuasaan negara – negara Eropa. Terutama negeri – negeri yang jauh dari pusat kekuasaan kerajaan Usmani, tetapi meskipun kerajaan Usmani telah banyak kehilangan wilaahnya, negara – negara Eropa masih segan dan dipandan cukup kuat dalam bidang militernya. Namun kekalahan besar kerajaan Usmani thun 1683 , membuka mata bahwa kerajaan Usmani telah mundur jauh sekali. Sejak itulah kerajaan Usmani banyak mendapat serangan dari negara – negara Eropa. Usaha pembaharuan Turki Usmani baru mengalami kemajauan setelah penghalang pembaharuan, yaitu Yenissari dibubarkan oleh Sultan Mahmud II (1807 – 1839 M) pada tahun 1826. Dan struktur kekuasaan kerajaan dirubah, banyak lembaga pendidikan modern didirikan, buku – buku barat banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa Turki, dan pengiriman siswa berbakat ke Eropa, serta pendirian sekolah militer. Perubahan tersebut tidak hanya dilakukan di dalam kerajaan Usmani saja tetapi juga di berbagai negara yang telah di kuasai oleh negara – negara Eropa. Misalnya saja di negara Mesir, di Kairo yang merupakan ibukota negara Mesir sepeninggalan tentara Perancis, kekuasaan diambilalih oleh Muhammad Ali (1805 – 1848) seorang yang berkebangsaan Turki dari Macedonia yang dikirim oleh kerajaan Usmani untuk melawan perancis. Dia sendiri mengumpulkan kekuatan penduduk kota, menghancurkan rivalnya, dan memploklamirkan dirinya menjadi gubernur di wilayah tersebut. Dalam melakukan usahanya untuk pembaharuan dia telah melakukan pelatihan perwira, dokter dan pejabat di sekolah – sekolah baru dan dikirimkan ke Eropa. Dalam negeri dia banyak melakuakan kontrol usaha terhadap seluruh hasil pertanian, pemungutan pajak, dan harta wakaf. Dia juga melakukan monopoli dalam bidang perdagangan. Sedangkan di Tunisia perubahan terjadi di bawah rezim Ahmed Bey ( 1837 – 1855), yang memiliki kekuasaan sejak abad ke-18. Pemimpinnya merupakan kelompok Turki dan Mamluk yang dilatih dengan sistem yang lebih modern. Hasil dari gerakan pembaharuan tersebut banyak mendatangkan kemajuan, tetapi tidak bisa menghentikan gerak maju negara – negara Eropa ke dunia Islam pada abad ke-19. Dan selama negara – negara Eropa menyerang pada abad ke-18 ujung garis medan pertempuran Islam di Eropa bagian timur wilaah kerajaan Usmani, yang pada akhirnya ditandatanganinya Perjanjian San Sefano ( Maret, 1878 M) dan Perjanjian Berlin (Juli – Juni, 1878 M) antara kerajaan Usmani dan Rusia. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Turki di Eropa. Turki Usmani yang bergabung dengan Jerman pada Perang Dunia I mengalami kekalahan, yang menyebabkan Turki Usmani semakin mundur serta banyak negara – negara yang dibawah kekuasaan Turki Usmani ingin melepaskan diri dari Turki Usmani. Sebagai contoh adalah pada tahun 1808 Serbia melawan pemerintahan lokal kerajaan Usmani, dengan pertolongan negara – negara Eropa akhirnya negara Serbia berdiri tahun 1830. Sejak itu pulalah kebesaran kerajan Turki Usmani runtuh, bahkan kekhalifahannya dihapuskan tidak lama kemudian(1924 M). Tidak hanya di kerajaan Usmani saja tetapi penetrasi negara – negara Eropa juga ke pusat dunia Islam di Timur Tengah yang dilakukan oleh Inggris dan Perancis. Di Jazirah Arab, pelabuhan Aden di duduki oleh Inggris dan India tahun 1839 , dan menjadi pelabuhan untuk rute ke India. Tahun 1830 Perancis mendarat di pantai Aljazair dan menjajahnya. Namun negara Persia dan Afganistan menjadi perebutan antara Inggris dan Rusia todak ada satupun negara – negara Eropa tersebut yang berhasil menjajah. Salah satu faktor yang mempengaruhi negara- negara Eropa yang datang ke negara – negara Islam adalah diorong permasalahan ekonomi dan politik serta persaingan atau kompetisi politik dan ekonomi negara – negara Eropa. Dimana kemajuan yang diperoleh negara – negara Eropa dalam bidang industri menebabkan permasalahan bahan baku. Disamping itu juga mereka membutuhkan negara yang bisa dijadikan sebagai tempat memasarkan hasil industri . Dan untuk mempermudah permasalahan ekonomi yang dihadapi tesebut negara – negara Eropa menggunakan kekuatan politik . Dari uraian diatas, telah jelas bahwa negara – negara Islam pada abad ke-19 dan ke-20 hampir seluruhnya berada di bawah koloni negara – negara Eropa, kecuali Hijaz, Persia, dan Afganistan. Sedangkan negara – negara di wilayah timur khususnya Afrika bagian Timur dan Asia oleh negara – negara Eropa dijadikan sebagai lahan untuk diambil bahan bakunya untuk industri . Tetapi tidak nampaknya negara Spanyol dan Portugal dalam ekspansinya di wilayah negara – negara Islam mungkin dikarenakan kedua negara ini masih mengingat peristiwa yang telah terjadi, akni Perang Salib. 2. Kebangkitan Negara – Negara Islam Periode Modern Ekspansi yang telah dilakukan oleh negara – negara Eropa telah menyadarkan umat Islam bahwa mereka sangat tertinggal jauh dari negara – negara Eropa akibat keterbelakangan dalam berbagai aspek kehidupan. Negara – negara Eropa bisa menjajah karena keberhasilan mereka menerapkan sratetegi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang mereka miliki. Pada satu sisi kekuatan militer dan politik negara – negara Islam menurun, perekonomian yang merosot yang merupakan akibat dari monopoli perdagangan antara timur dan barat tidak lagi mereka kendalikan. Di sisi lain negara – negara Eropa pada waktu yang sama menggunakan metode berpikir rasional, dan disana tumbuh kelompok intelektual yang membebaskan diri mereka dari ikatan – ikatan gereja. Sementara dalam bidang ekonomi dan perdagangan mereka mengalami perkembangan yang cukup pesat dengan ditemukannya Tanjung Harapan dan Benua Amerika. Usaha yang dilakukan negara – negara Islam melalui gerakan pembaharuan, didorong oleh beberapa faktor yang saling mendukung, yaitu pemurnian ajaran – ajaran Islam dari unsur – unsur asing yang dipandang sebagai penyebab kemunduran Islam dan belajar gagasan – gagasan pembaharuan dan ilmu pengetahuan dari negara – negara Eropa. Salah seorang tokoh pemikir gerakan kemerdekaan yang bernama Sayyed Jamaluddin Al Afghani yang berasal dari Afganistan, ia memperkenalkan hasil pemikirannya itu yang bernama Pan-Islamisme,yang sebelumnya didengungkan oleh gerakan Wahhabiah dan Sanisiyah, artinya solidaritas antara seluruh muslim di dunia internasional.ajaran inilah kemudian banyak digunakan oleh para pemikir pembaharuan di dunia Islam Tetapi gagasan Pan-Islamisme lama kelamaan meredup setelah terjadinya Perang Dunia I, yang mana pada waktu itu Turki bersekutu dengan Jerman dan mengalami kekalahan. Maka setelah itu muncullah gagasan baru yang bernama gagasan nasionalisme. Gagasan ini pada permulaannya banyak mendapat tentangan dari berbagai pihak dari pemuka – pemuka islam karena tidak sejalan dengan semangat ukhuwah islamiyah, tetapi setelah itu berkembanglah gagasan nasionalisme itu. Diberbagai negara mislanya, gagasan nasionalisme di Mesir telah tumbuh sejak masa Al Tahtawi (1801 – 1873) dan Jamaluddin Al Afghani. Tetapi tokoh yang terkenal dalam pergerakan memperjuangklan gagasan ini di Mesir ialah Ahmad Urabi Pasha. Sedangkan di Arab sendiri gagasan nasionalisme Arab segera menyebar dan disambut hangat sehingga nasionalisme terbentuk atas dasar kesamaan bahasa. Di India Pan-Islamisme juga tumbuh melalui pelopornya Sed Amir Ali ( 1848-1928). Namun gagasan ini segera tergantikan oleh gagasan nasionalisme. Akan tetapi gagasan nasionalisme juga segera pudar, ini dikarenakan kaum muslimin ang minoritas tertekan oleh kelompok Hindu ang mayoritas. Maka umat islam di negara India tidak menganut nasionalisme, melainkan islamisme, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Komunalisme. Dan di Indonesia partai politik besar yang menentang penjajahan di Indonesia adalah Sarekat Islam didirikan tahun 1912 oleh HOS Tjokroamionoto. Sarekat Islam sendiri merupakan kelanjutan dari Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh H.Samanhuditahun 1911. Tidak lama kemudian partai – partai politik lainnyapun mualai bermunculan, seperti PNI, PNI Baru, Permi. Munculnya gagasan – gagasan untuk pembaharuan Islam yang kemudian diikuti dengan berdirinya beberapa partai politik merupakan modal pertama yang dimiliki oleh umat Islam untuk mewujudkan negara yang bebas dari pengaruh negara – negara Eropa. Perjuangan nyata partai politik tersebut mereka wujudkan dalam beberapa bentuk kegiatan, seperti gerakan politik, baik dalam bentuk diplomasi maupun bersenjata, dan pendidikan dan propaganda untuk mempersiapkan masyarakat menyampbut dan mengisi kemerdekaan itu sendiri. Dan pada pertengahan abad ke-20 terjadi Perang Dunia ke-2 , yan melibatkan negara kolonialis. Hampir semua daratan di Eropa dilanda peperangan. Konsekuensinya adalah terpusatnya konsentrasi kekuatan militer di setiap negara. Akibatnya negara – negara Eropa menarik pasukannya yang berada di daerah jajahan mereka masing – masing. Dalam kondisi seperti ini negara – negra Islam yang tidak terlibat memanfaatkannya untuk memperoleh kemerdekaan negerinya masing - masing Dan negara mayoritas berpenduduk muslim pertama kali memproklamasikan kemerdekaan adalah Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Indonesia merdekan dari pendudukan Jepang, setelah Jepang ditaklukkan oleh Tentara Sekutu dengan ditandai dibomnya kota Hiroshima dan Nagasakai. Namun setelah itu rakat Indonesia harus mempertahankan kemerdekaan dari Belanda dan Tentara Sekutu yang berhasil menguasai Indonesia Negara Islam kedua yang merdeka dari penjajahan bangsa Barat adalah Pakistan, tanggal 15 Agustus 1947. yaitu ketika negara Inggris menerahkan kedaulatannya di India dan Pakistan kepada dua Dewan Konstitusi. Yang pada waktu itu presiden pertamanya adalah Ali Jinnah. Di bagian Timur Tengah, negara Mesir yang telah memperoleh kemerdekaan tahun 1922 dari negara Inggris, tetapi dalam sistem pemerintahan Raja Faruk, masih besar pengaruh Inggris. Barulah pada tanggal 23 Juli 1952 masa pemerintahan Jamal Abd al Nasser merobohkan sistem pemerintahan Raja Faruk Di negara lain Irak yang hampir sama keadaannya dengan negara Mesir yaitu memperoleh kemerdekaan tahun 1932 , tetapi rakyat Iraq baru meraskan kemerdekaan yang sesungguhnya pada tahun 1958. Sebelum negara Iraq, negara lain yang mengumandangkan kemerdekaan adalah Syria, Jordania, dan Libanon pada tahun 1946. Di Afrika, negara – negara banyak yang telah membebaskan diri dari penjajahan bangsa barat yaitu Perancis. Diantaranya Lybia tahun 1951 , Sudan dan Maroko tahun 1956 , Aljazair tahun 1962. Dan hampir bersamaan negara Yaman Utara, Yaman Selatan, Emirat Aab memperoleh kemerdekaan. Di Asia Tenggara, negara – negara mayoritas Islam juga mendapat kemerdekaan mereka. Malaysia yang pada waktu itu Singapura juga masih masuk mendapat kemerdekaan dari Inggris tahun 1957 , disusul Brunei Darussalam tahun 1984. Satu per satu negara – negara Islam memperoleh kemerdekaan dari penjajahan negara – negara Eropa. Bahkan ada negara yang minoritas penduduk Islam ingin memperoleh otonomi sendiri dengan kata lain iningi mendirikan negara yang merdeka. Seperti Uzbekistan, Turkmenia, Kirghistan, Kazakhtan, Tasjikistan, dan Azerbaijan yan belum lama ini memperoleh kemerdekaan mereka. Tetapi negara seperti India, yang minoritas penduduknya di Khasmir dan Filipina ang berada di Moro belum memperoleh kemerdekaan. Meskipun hidup mereka terasa tertekan karena status minoritas yang sering menyulitkan mereka dalam memperoleh kesejahteraan hidup. PENUTUP Negara – negara Eropa pada abad ke-19 dan ke-20 mendominasi negara – negara di dunia, khususnya negara – negara Islam. Faktor yang mempengaruhi negara – negara Eropa mendominasi dunia adalah kemajuan yang mereka peroleh dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Tekologi serta sistem perekonomian yang baru yaitu dengan ditemukannya Tanjung Harapan dan Benua Amerika. Oleh karena itu negara – negara Eropa yang minim bahan baku mencari negara yang dapat dijadikan jajahan untuk kemudian diekspansi dalam bidang perdagangan. Negara – negara Islam yang dijajah berfikir untuk melepaskan diri dari jajahan negara – negara Eropa. Muncullah para tokoh pemikir dengan gagasannya masing masing, yaitu berupa gagasan Pan- Islamisme oleh al Afghani, dan gagasan Nasionalisme yang berasal dari negara Barat yang dibawa oleh para pelajar yang bersekolah di negara – negara Eropa. Tetapi ada juga yang membuat sebuah agasan tersendiri aitu di India dengan gagasan mereka Islamisme. Hasil dari pembaharuan melalui gagasan itu juga terasa, namun tidak sepenuhnya. Pada akhirnya terjadilah Perang Dunia II, yang melibatkan banyak negara – negara Eropa. Situasi seperti inilah yang dimanfaatkan negara – negara Islam untuk memperoleh kemerdekaan mereka kembali. Dan setelah Indonesia yang merupakan negara pertama memproklamasikan kemerdekaan, negara – negara Islam lainnya juga memproklamasikan kemerdekaan negara mereka masing – masing. DAFTAR PUSTAKA Fakih, Aunur Rahim. Pemikiran dan Peradaban Islam. 1998. Yogakarta : UII Press Mansur. Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah. 2004. Yogyakarta : Global Pustaka Utama. Maryam,Siti. Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern. 2002. Yogakarta: LESFI Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiah II. 1995. Jakarta : P.T. Raja Graffindo.
4.8.09
NU Masih Tetap Mengalir
Posted By
Abdurrahman Haidar
On
Selasa, Agustus 04, 2009
Dalam bangunan sosio-politik dan kultural Indonesia, dapatkah kita menemukan kembali unsur-unsur yang dulu merupakan sumbangan NU? Kemudian, dapatkah kita mengklim bahwa unsur tertentu dalam bangunan tersebut adalah hasil karya NU? Mungkin tidak. Seperti halnya tak mungkin seorang kiai akan bisa menemukan kembali jejak pendidikan yang pernah ditinggalkan dalam diri para santrinya. Ini, tentu saja, karena sang santri sendiri juga berkembang dan menyerap dari berbagai sumber lain buat basis dan pengayaan pemikirannya. Tetapi, jika para analis bisa dengan mudah bicara tentang kontribusi pemikiran sosio-politik-keagamaan Abdurrahman Wahid dan Nurcholish Madjid, yang nampak mewarnai pemikiran Islam di Indonesia sekarang, kita juga bisa kembali melihat apa yang sudah pernah disumbangkan NU bagi kehidupan kemasyarakatan kita melalui, antara lain, keputusan-keputusan yang pernah diambil dalam Munas yang berlangsung selama ini. Kita ingat bahwa dalam Munas di Kaliurang, September 1981 , NU memutuskan tiga hal: mengangkat Kiai Ali Ma’sum sebagai Rais Aam, tidak mencalonkan lagi Soeharto sebagai presiden, dan tidak mendukung Soeharto sebagai Bapak Pembangunan, yang saat itu gencar disuarakan oleh berbagai kekuatan sosial politik di Indonesia. Saat itu NU berpendapat bahwa hal itu sebaiknya diserahkan pada MPR. Kita juga masih ingat bahwa dalam Munas itu pula NU terpecah menjadi dua kubu: Cipete dan Situbondo. Dalam Munas berikutnya di Situbondo, Desember 1983 , diambil keputusan yang menimbulkan kekaguman banyak pihak, di samping penyesalan sementara kalangan, yaitu kembali ke khittah 26 dan menerima Pancasila sebagai asas tunggal. Dengan kembali ke khittah 26 , berarti NU meninggalkan dunia politik untuk memilih kembali menjadi organisasi sosial. NU menerima Pancasila sebagai asas tunggal karena bagi NU, Indonesia ini sudah merupakan bentuk final yang diperjuangkan dan dicita-citakan Islam sejak dulu. Seperti dapat kita lihat dalam perkembangan politik Indonesia selanjutnya, keputusan ini terasa jitu. Seolah keputusan ini langsung terkait dengan Islam yes, partai Islam no, yang terkenal itu. Dengan begini, sebenarnya NU mencoba keluar dari kepompong untuk meng-Indonesia-kan diri. NU, dengan kata lain, berusaha menanggalkan baju primordialnya untuk menapak di jalur cepat (nasional) dalam pergaulan dengan berbagai kekuatan sosial politik lainnya. Dalam pergaulan itu, NU menghilangkan aneka prasangka (ras, suku, dan keagamaan) tetapi juga tidak perlu menghilangkan identitas asalnya. Di dalam Munas Cilacap, Desember 1987 , NU mengambil dua macam keputusan: tajdid (pembaruan) dan ukhuwah. Pembaruan ajaran dianggap perlu dilakukan karena ajaran, bagi NU, adalah ibarat aliran sungai. Makin jauh dari sumber sucinya (zaman Gusti Kanjeng Nabi Muhammad s.a.w.) dan makin dekat ke muara (kehidupan zaman kita ini), segala najis dan khadas yang mengotori ajaran kita tentu semakin banyak. Namun, pembaruan bukan dimaksudkan untuk mengajak umat bersama-sama menata kembali pola kehidupan sosio-politik- kultural sebagaimana tercermin dalam kehidupan bangsa Arab tempo dulu (yang tentu saja tidak akan cocok dengan kondisi obyektif kita sekarang), melainkan untuk membersihkan kotoran tersebut. Dalam kaitan ini, NU tiba-tiba lalu menemukan diri bergandengan tangan dengan Muhammadiyah, tetangganya itu. Pada titik ini NU-Muhammadiyah bertemu dalam aspirasi dan doktrin keagamaan. Dengan kata lain, NU membuka jendela yang selama ini menyekat hubungannya dengan Muhammadiyah. Keputusan mengenai ukhuwah menyangkut tiga hal penting: ukhuwah Islamiah (sesama Islam), ukhuwah wathaniah ( sesama warga negara), dan ukhuwah basyariah (sesama manusia). Ini, sekali lagi, mempertegas kembali tekad NU untuk lebih membuka cakrawala pergaulan dengan siapa saja, tanpa beban prasangka tadi. NU mencoba hidup secara enak, mengalir bagai aliran sungai, ke arah mana saja sejauh tak menodai diri dan inti perjuangannya. Ini menarik, karena seolah-olah NU sudah jauh memperhitungkan bakal datangnya era globalisasi dalam berbagai segi kehidupan seperti kita rasakan sekarang ini. Setelah “dekrit” tentang tiga ukhuwah itu, NU lalu membuka peluang kerja sama ekonomi dengan berbagai pihak. Maka terbentuklah kemudian BPR, Morelli Makmur, Morelli Aswaja, dan Buana Citra Asparagus. Yang terakhir ini merupakan kerja sama NU dengan pihak Swiss. Dalam Munas Lampung, 21-25 Januari 1992 mendatang, akan dibahas tiga hal: soal bank, asuransi, dan hirarkhi pengambilan keputusan hukum Islam di lingkungan NU. Bisik-bisik dan segenap komentar, konon sudah berkembang. Ada yang menganggap, Munas Lampung mendatang merupakan suatu langkah mundur bagi NU. Ada pula yang bilang bahwa asuransi dan bank tak ada relevansinya dengan NU, sementara hirarkhi pengambilan keputusan hukum Islam pun dianggap sudah telat. Kemunduran? Dan bank serta asuransi tak relevan dengan NU? Pokok-pokok yang akan dibahas di Lampung, sepintas lalu, dan itu bila hanya dilihat dari segi politik, memang tak kelihatan menggebrak. Tapi mestikah yang tak menggebrak itu suatu kemunduran? Belum tentu. Kita kan tak harus menggebrak terus-menerus. Artinya, bila situasi menghendaki kita bekerja secara kalem, mengapa pula harus menggebrak? Saya setuju bahwa dibanding dengan keputusan Munas Situbondo dan Munas Cilacap, arti politis Munas Lampung mungkin lebih kecil. Tapi anggapan bahwa bank dan asuransi tak relevan dengan NU, sulit saya pahami. Adalah panglima tertinggi NU yang selalu bilang betapa pentingnya kita membenahi kehidupan ( ekonomi) umat yang sampai saat ini masih morat-marit. Dan, bahwa demi pembenahan itu, kita dianjurkan pula untuk tak usah selalu ribut tentang thethek mbengek perkara khalifiah, karena problem pokok umat adalah kemiskinan. Memang, kita tak harus setuju dengan panglima tertinggi. Tapi bila sebagai tindak lanjut dari “dekrit” tentang tiga ukhuwah kita kerja sama dengan bank, dan hal itu sekarang kita tindaklanjuti, bagaimana bisa bank dianggap tak ada relevansinya dengan NU? Saya melihat bahwa Munas kali ini masih terkait dengan soal penting dalam kehidupan umat. Dengan kata lain, NU masih tetap mengalir. Ia tak kehilangan relevansi apa pun.
3.8.09
Langganan:
Postingan (Atom)





