31.1.10

NU dan Kultur budaya


Peringatan hari lahir Ormas Nahdlatul Ulama (NU) ke-82 tahun 2010, banyak memperoleh apresiasi beragam dari ormas-ormas muslim. Pada dasarnya NU terlahir dari generasi orang-orang berlatar kultural yang menjunjung tinggi nilai budaya dan tradisi ketimuran. Tokoh seperti K.H. M. Hasyim Asyarie dan K.H. Wahab Hasbullah adalah panutan masyarakat yang meletakkan ideologi dasar keselamatan dan kesejahteraan di dalamya. Fungsi NU selain sebagai penegak pilar-pilar agama, juga sebagai organisasi sosial yang menyelamatakan bangsa Indonesia dari kejumudan dan sekterianisme.


Kultur dasar NU yang menjadi promotor bendungan masyarakat dari arus pragmatisme dan kolonialsme, ternyata banyak dialihfungsikan setelah ia menjadi the big organization dengan jutaan massa. Dinamika para tokoh NU dengan banyak berkiprah dalam berpolitik praktis, menjadikan jelasnya harapan khitah NU mulai terkikis. NU adalah organisasi masyarakat yang mempunyai tanggung jawab mengerti, menampung, dan memenuhi aspirasi masyarakat agar tercipta suasana damai, adil tanpa kekangan, dan penjajahan secara realitas maupun imajiner.
Tradisi pesantren yang dibangun dan dikembangkan NU menjadi basis signifikansi pergerakan rakyat Indonesia melawan kelompok-kelompok separatisme kolektif. Menerangi wilayah yang pada saat itu masih terjadi krisis vertikal ihwal keagamaan, dan melakukan gerakan pembelajaran linier bersama kaum proletar tak berpendidikan untuk cita-cita bersama mewujudkan kondisi nyaman dari kekosongan spiritual serta krisis keamanan.
Menurut pandangan K.H. Abdurrahman Wahid, sistem kebersamaan hidup masyarakat dalam lingkup multikulturalisme yang masih berlaku, menunjukkan indikasi adanya girah sepihak dari personal tokoh NU untuk membangun rezimnya sendiri. NU dengan berfondasi pada khitah pesantren seharusnya melakukan pembelaan hak-hak setiap rakyat dari penjajahan struktural. Dalam cakupan lebih luas, budaya tradisi pesantrenisme yang dihidupkan oleh ormas NU adalah upaya menciptakan tandingan terhadap tindakan sebagian rezim penguasa yang semena-mena menghilangkan kebebasan orang lain.
Tradisi dan kultur pesantren, yang dulu menjadi alat canggih untuk mobilisasi sosial horizontal, melalui cara penerapan kaidah "keulamaan" dari para ulama pribumi yang menyerap berbagai ilmu suci telah berhasil mewujudkan harapan, salah satunya meningkatnya pendidikan kebudayaan bangsa. Ormas NU sekarang seharusnya tidak bergeser dari kaidah-kaidah para pendirinya tersebut. Artinya, NU harus lebih berguna bagi seluruh masyarakat Indonesia, bukan bagi pribadi, dengan meningkatkan politik imagologi untuk menang sendiri.
Sekarang dalam tubuh NU terjangkit polarisasi dan diaspora besar-besaran. Keanekaragaman pikiran tokoh NU mulai agresif dengan rezimnya sendiri terhadap gejala-gejala sosial dan perlawanan terhadap fundamentalisme budaya asing yang dikemas dalam pakaian agamis. Seperti Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan nahkodanya Ulil Absar Abdalla, menggelorakan pikiran keislaman dengan pendekatan liberal. Masdar Farid dengan madzabnya Islam emansipatoris, yang ingin membangun transformasi sosial masyarakat umum melalui dasar-dasarnya.
Apakah yang mereka tawarkan tetap pada sebatas pikiran yang menjebakan diri pada perpecahan. Padahal itu semua belum cukup artinya tanpa adanya respons balik masyarakat secara komperhensif untuk mewujudkan keinginan mereka. Perlu diperhatikan lebih serius adalah bagaimana seluruh warga masyarakat nahdliyin mampu menghayati nilai-nilai yang diajarkan para pendiri NU dengan sepenuh hati, sehingga mereka tahu apa tujuan dilahirkannya ormas ini. .
Kebosanan masyarakat awam melihat dan merasakan para tokohnya yang kian berjalan sendiri-sendiri tanpa memperhatikan makmunya yang sangat heterogen, banyak menciptakan kritik dan hilangnya roh kharismatik ketokohan mereka. Dikhawatirkan terjadi krisisisasi budaya pesantren yang santun dan membahayakan khitah organisasi ini. Sekarang adanya diaspora para tokoh NU merupakan implikasi dari pecahnya budaya pesantren atau terkontaminasinya budaya pesantren dengan budaya asing yang menciptakan suasana asing pula di hati warga nahdliyin.
Ormas NU yang saat ini menyebar pesat di berbagai belahan dunia, secara otomatis terkombinasi langsung dengan kultur budaya setempat. Budaya yang heterogen dalam setiap wilayah yang luas, tidak mungkin bisa disatukan dengan cara dan alat apa pun. Masayarakat nahdliyin yang plural seakan mendapatkan ultimatum dari tokoh untuk mendukung perspektif pemikirannya upaya memecahkan persoalan di tengah-tengah warga NU. Ini sangat tidak mungkin, memberikan satu jenis hal untuk banyak orang yang berbeda-beda.
Budaya NU dalam memahami tekstualitas klasik, menjadi hal yang termarginalkan oleh para tokoh sendiri. Padahal di kalangan mayoritas warga, mereka masih berpegang teguh membaca dan meneliti teks-teks keilmuan tersebut. Toh, bukan berarti mereka itu orang-orang bodoh yang hanya bisa membaca karya dan pemikiran orang lain. Justru dengan mempelajari ihwal seperti itu, budaya berpikir pesantren akan semakin hidup dari dialektika antarteks-dengan teks lainnya.
Itulah mengapa, dulu ormas ini mempunyai nilai yang berbeda dari yang lain. NU mampu diterima dan berjalan sinergis dengan kesatuan masyarakat yang berbeda-beda. Kondisi pemahaman para kiai dulu, adalah bagaimana cara masyarakat luas tanpa gusar dan ragu melaksanakan visi misi NU, tanpa harus meninggalkan kebudayaan masyarakat itu sendiri. Maka akan timbul semacam asimilasi budaya masyarakat dengan budaya NU melahirkan output budaya baru yang sesuai dengan atmosfir yang dikehendaki masyarakat plural.
Kultur kiai klasik NU tidaklah basi dan ortodoktif, tetapi memang sudah diatur oleh para sesepuh agar bagaimana NU bisa tertanam dalam hati masyarakat dengan seksama. Tatapi oleh beralihnya masa seakan hal itu menjadi pandangan yang tabu dan kolot bagi para tokoh sekarang. Kebudayaan yang dibangun oleh NU dengan mengajak kembali ke pesantrenisme harus menjadi amunisi utama dalam menghadapi globalisasi dan banjir bandang budaya asing yang merambah ke mana-mana.
[Fuad Hasan,Pemerhati masalah sosial dan kebudayaan.Tinggal di Yogyakarta]
Opini Lampung Pos 29 Januari 2010,di adaptasi dari www.artikel-media.blogspot.com

Mempertegas khitah epistemologis NU


Nahdlatul Ulama (NU) pada tanggal 31 Januari 2010 ini menginjak usia ke-84 tahun. Selama itu keberadaannya dalam kancah politik dan gerakan kultural di Indonesia, telah memberi warna tersendiri yang tidak jarang menimbulkan perdebatan dan kesalahpahaman.

Pada suatu saat, perilaku kultural NU acapkali dianggap jumud (stagnan) dan ketinggalan zaman. Dalam dunia politik, perilaku politik NU seringkali dituding oportunistik.


Munculnya kesalahpahaman dalam menilai kiprah dan keterlibatan NU baik di jagat politik maupun ranah kultural, dapat dipahami—-selain karena kelemahan internal organisasi NU—-juga disebabkan mayoritas masyarakat terdidik di Indonesia melihat NU dengan paradigma tertentu dan cara pandang tertentu.
Paradigma utama yang dominan saat ini adalah positivisme atau sering disebut sebagai fungsionalisme atau strukturalisme. Paradigma ini, intinya, melihat fenomena sosial dan kebenaran sebagai hal yang objektif di luar kesadaran manusia, persis seperti paradigma dalam ilmu alam. Paradigma ini pulalah yang dianggap melahirkam modernisme dan kemajuan pada masyarakat Barat dengan lahirnya renaisans (pencerahan).
Namun demikian, paradigma ini, saat ini, mendapatkan kritik tajam di negara-negara Eropa yang menjadi tempat kelahiran dan berseminya. Inggris, Jerman, Perancis, dan Italia adalah negara-negara Eropa yang banyak melahirkan pemikir yang menentang cara berpikir modernisme yang dianggap menghasilkan banyak masalah kemanusiaan di dunia sekarang.
Kritik tajam terhadap paradigma modernisme ini tidak terjadi di Amerika Serikat (AS) yang sekarang ini berada di garis terdepan dalam kemajuan. Di luar sumbangan dalam hal-hal yang sifatnya praktikal, AS memang tidak memberikan sumbangan apapun dalam pemikiran filosofis selain pragmatisme. Karena itu, meskipun ruang kebebasan berpikir di negara ini begitu terbuka lebar, pemikiran-pemikiran kritis tidaklah tumbuh subur.
Dunia intelektual Indonesia banyak dipengaruhi oleh AS. Kondisinya tidak jauh berbeda. Apalagi AS memiliki andil besar dalam pembangunan nasional. Selama berkuasa, Soeharto tidak memperbolehkan munculnya tradisi kritis. Marxsisme, sebagai pintu ajaran kritisisme terhadap modernisme, dilarang.
Karena itu, dapat dipahami jika mayoritas intelektual dan kelas terdidik di Indonesia masih akrab dengan cara berpikir lain yang juga ilmiah. Sebaliknya, orang atau kelompok yang memiliki cara pandang di luar paradigma dominan menjadi kelompok tersingkirkan atau terkucilkan secara intelektual, politik dan sosial.
Paradigma unik
NU termasuk kelompok yang memiliki paradigma unik yang berbeda dari paradigma dominan. Karenanya, tak heran sering ditemui perilaku kultur dan politik NU yang tidak dapat dijelaskan oleh para pengamat manapun karena memang cara pandang yang digunakan berbeda.
Sebetulnya, untuk memahami rasionalitas keunikan perilaku politik dan kultur NU, tidaklah terlalu sulit. Hal itu dapat ditelusuri melalui slogan yang dipegang teguh orang-orang NU, yakni melestarikan nilai-nilai tradisional yang positif dan menjemput nilai-nilai baru yang lebih progresif.
Nilai-nilai tradisional (lama), bagi NU adalah tradisi Islam dan tradisi di Indonesia di mana kita berpijak, sedangkan yang baru, bagi NU adalah modernitas. NU sebenarnya secara konsisten selalu bergerak dalam ruang tradisi ke-Indonesia-an, dan kemodernan yang dibumikan pada realitas sekarang.
Di tengah perang pemikiran seperti terjadi sekarang ini, Indonesia, bahkan dunia, memerlukan alternatif pemikiran, yang tidak didominasi hegemoni pemikiran Barat yang dapat memberangus tradisi-tradisi lokal dan bahkan tradisi keberagaman.
Indonesia sebagai negara yang berpenduduk mayoritas Islam, memerlukan pendekatan religius, yang tidak akan mendapatkan tempat dalam dunia positif-modernisme. Pada saat yang sama, Indonesia memerlukan model Islam yang mampu menunjukkan sikap yang toleran, ramah, dan melindungi minoritas dalam kenyataan Indonesia yang berbhineka.
Yang dibutuhkan Indonesia bukanlah Islam impor yang sangat hegemonis yang tidak ramah terhadap lingkungannya. Dengan kata lain, Indonesia dan dunia sangat membutuhkan NU. Dan NU harus mampu menunjukkan posisi paradigmanya yang memang berbeda dalam kancah pemikiran dunia saat ini.
Sebagai organisasi massa terbesar yang berada dalam lingkungan sosial politik yang dinamis, maka perubahan memang sangat sulit dielakkan. Kalau NU kini sangat tampak pragmatis dalam segala hal, warga NU bisa jadi telah mengalami mutasi epistemologis dari kelahirannya. Pragmatisme bukanlah basis epistemologis NU, bukan pula pijakan sewaktu NU didirikan, 31 Januari 1926 silam
Melawan hegemoni
Karena itu, hemat saya, rasanya penting penegasan kembali kepada khitah terutama khitah epistemologis NU, sebagai gerakan kebangkitan intelektual di zamannya yang peduli pada konteks budaya lokal, gerakan melawan hegemoni modernisme yang menunggang dalam sikap keberagaman.
Khitah epistemologis jauh lebih penting daripada khitah politis. Jika kembali ke khitah, hanya dipahami sebagai kembali ke kondisi awal sebagai organisasi sosial keagamaan yang menyingkir dari dunia politik, maka NU hanya akan menjadi organisasi yang bimbang terhadap kenyataan sosial politiknya.
Namun, jika epistemologi NU jelas, maka jelas pula sikap politiknya, tidak mencla-mencle, ke sana kemari, baik di dalam dunia politik praktis maupun dalam dunia high politics.
Kejelasan epistemologis inilah yang dapat menjadi pegangan bagi warga NU. Ini merupakan salah satu tugas penting komunitas intelektual di NU, jika menginginkan NU kembali bangkit memimpin di segala bidang pemikiran, mendudukkan NU pada posisi yang terhormat, dan memberikan manfaat besar bagi umat, bangsa, dan negara tercinta. -[ Oleh : Siti Ulfah, Wakil Ketua Fatayat NU Boyolali Alumnus IAIN Walisongo]

29.1.10

Lebih Dekat Dengan Ny.SHINTA NURIYAH (Istri GUSDUR)

Sinta Nuriyah Wahid Lahir di Jombang, 8 Maret 1948 mendapat gelar First Lady (Ibu Negara) ke-4 bersuamikan KH Abdurrahman Wahid. Menikah pada tanggal 11 September 1971 , dikaruniai empat anak yaitu: Alissa Qotrunnada Munawaroh (Lissa), Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny), Anita Hayatunnufus (Nita), Inayah Wulandari (Ina). Pendidikan terakhir Program S-2 Studi Kajian Wanita, Universitas Indonesia, Depok Pekerjaan Pendiri dan Pimpinan Yayasan PUAN Amal Hayati, didirikan 3 Juli 2000 dan mulai beroperasi Maret 2001 dengan Penguasaan Bahasa:Inggris, Arab dan Perancis. Alamat:Jl. Warung Sila No. 10 Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan Ibu Negara ke-4 ini sudah sangat terbiasa menghadapi perilaku suami yang kontroversial. Maka, ia pun tak terlalu merasa kaget ketika MPR RI tahun 1999 mengangkat suaminya, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi Presiden ke-4 RI. Ia juga tak perlu merasa kehilangan ketika oleh lembaga dan anggota yang sama, MPR di tahun 2001 menurunkan suaminya dari kursi kepresidenan. Sebelum suaminya belum menjadi apa-apa, lalu menjabat Ketua Umum PBNU ( 1984-1999) , menjadi Presiden, dan kembali menjadi anggota masyarakat biasa, tepatnya sebagai tokoh pejuang demokrasi, perdamaian dan multikulturalisme di sebuah negara yang justru sangat pluralistik, Sinta Nuriyah tetaplah sama. Ia tidak pernah berubah. Termasuk ketika suami yang sedang menjabat Presiden, itu diisukan melakukan perselingkuhan dengan seorang wanita Sinta Nuriyah Wahid tetap tegar sebagai istri yang percaya akan kebaikan suami. Menolak poligami Dra Sinta Nuriyah Wahid, M.Hum kelahiran Jombang 8 Maret 1948 , itu tetap setia mendampingi Gus Dur yang penglihatannya semakin menurun sehingga harus dituntun oleh putrinya Yenny. Walau pendampingan itu sendiri harus ia lakukan dari kursi roda. Ia membutuhkan alat bantu itu setelah mengalami kecelakaan mobil pada tahun 1993 , pada saat ia justru sedang memasuki semester kedua program studi S-2 Studi Kajian Wanita, di Universitas Indonesia, Depok. Keinginan kuat Sinta untuk memberikan yang terbaik bagi bangsanya tetap tidak berubah kendati sudah hidup di luar Istana. Ia memilih jalur pemberdayaan perempuan sebagai ikon perjuangan baru. Maka itu ketika berlangsung Muktamar PBNU tahun 2004 ia dengan lantang menolak menu makanan yang disajikan oleh sebuah jaringan restoran waralaba, sebab pemiliknya dikenal luas sebagai penganut poligami. Sikap tegas Sinta itu segera menyadarkan pemikiran banyak orang tentang telah munculnya sebuah dobrakan baru, yang bermaksud mengubah persepsi lama pemikiran kaum lelaki mengenai perempuan. Ia memang tidak main-main dalam perjuangannya. Jauh sebelumnya, pada 3 Juli 2000 Sinta telah mendirikan sebuah lembaga Yayasan PUAN AMAL HAYATI. PUAN, yang diartikan Sinta sebagai “Pesantren Untuk Pemberdayaan Perempuan”. Yayasan itu baru resmi beroperasi sejak Maret 2001. Ada alasan unik mengapa Sinta menundanya. Ia menghindari kemungkinan timbulnya persepsi buruk di masyarakat, sebab tidak mau dikatakan memanfaatkan kedudukan Ibu Negara untuk mendirikan Yayasan. Karena itu ada uang atau tidak Yayasan akan tetap jalan. Tetapi paling tidak pasti akan ada uang dari honor KH Abdurrahman Wahid, sang suami untuk membiayainya. Sinta yang sudah dilamar oleh Gus Dur sebagai istri saat masih berumur 13 tahun, namun baru diwujudkan kemudian pada pernikahan 11 September 1971 , itu memastikan tidak ada campur tangan lembaga dan orang-orang Kepresidenan ketika mendirikan Yayasan. Kecuali sumbangan nama “Amal” dari Alwi Shihab yang ketika itu menjabat Menteri Luar Negeri, yang lalu ditimpali oleh Presiden Gus Dur dengan nama “Hayati”. Sedangkan kata PUAN sudah disediakan Sinta sebagai ikon perjuangannya lewat Yayasan. Kaji Ulang Kitab Kuning Sinta bukan hanya lantang menyuarakan penolakan kehidupan poligami. Ia sekaligus menerobos dan memperbaiki persepsi para kiyai tentang perempuan, yang selama ini selalu saja menggunakan paradigma lama berpegang pada Kitab Kuning sebagai pedoman. Isi Kitab Kuning menurut Sinta sesungguhnya tidaklah sepenuhnya sesuai dengan isi al-Quran. Sinta mengatakan isi Kitab berisi relasi suami istri yang menggambarkan kedudukan istri sangat terpuruk. Di situ, disebutkan kedudukan seorang istri ibarat tawanan perang sang majikan (suami) di dalam rumah tangga. Isi Kitab Kuning kata Sinta berbeda dengan ide kesetaraan gender. Karena itulah keseteraan gender tak akan bergaung di lingkungan pesantren sebab kiyai-kiyai masih tetap beranggapan lama sesuai dengan isi Kitab, dimana kedudukan istri digambarkan sebagai seorang budak di hadapan suami, atau seperti seorang yang menanggung hutang dengan suaminya. Kata Sinta, ada juga yang mengatakan seorang istri sekalipun menjilati nanah di muka suami, kalau suaminya itu tidak ridho maka tidak akan berarti apa-apa. Hal itu membuat Sinta merasa ganjil, apakah memang benar Islam mengajarkan hal itu. Karena Sinta merasa itu tidak benar maka ia mengkaji ulang isi Kitab Kuning, dan ternyata hadits-hadits seperti itu adalah hadits-hadits palsu. Sinta harus mengkaji ulang Kitab Kuning setelah sebelumnya berhasil membuat tesis, berjudul “ Perkawinan Usia Muda dan Kesehatan Reproduksi” dengan mengambil responden dari kalangan pesantren dan non pesantren. Sinta menyarankan pihak-pihak yang berpendapat bahwa poligami boleh, itu sebaiknya mengkaji al-Qur’an lebih dalam, saksama, teliti, dan semua aspek mesti dikaji lagi. Sebab, menerjemahkan al-Qur’an tidak terbatas pada lingkup yang tekstual tapi juga kontekstual. Termasuk mencakup kajian asbâb al-nuzûl (sebab diturunkannya) dan melihat bahasanya. Secara tekstual ayat poligami memang berbunyi, “fankihû mâ thâba lakum min al-nisâ’ matsnâ wa tsulâtsa wa rubâ’…”, (nikahilah dua atau tiga atau empat perempuan yang baik menurutmu). Ayat ini kata Sinta jangan dipotong sampai di situ saja, sebagaimana umumnya orang banyak memotong hanya hingga penggalan ayat tersebut. Sebab masih ada sambungan yang sering dilupakan yakni, “Fain khiftum allâ ta’dilû fawâhidah” (sekiranya kamu khawatir tidak dapat berlaku adil, maka kawini satu perempuan saja). Masalahnya, kata Sinta, keadilan itu dilihat dari sudut mana dan ukuran siapa. Al-Qur’an memiliki dua padanan kosakata untuk kata keadilan yaitu qashata dan ‘adala. Qashata sering dipakai untuk pengertian “keadilan yang bersifat materil”. Sementara ‘adala untuk “keadilan yang bersifat immateril termasuk cinta, kasih sayang, perhatian dan lain sebagainya.” Nah, dalam ayat tadi al- Qur’an menggunakan kosakata ‘adala. Jadi yang dituntut dalam ayat, yang justru sering dijadikan justifikasi teologis poligami, adalah keadilan yang bersifat immateril. Maka jika sudah bicara keadilan immateril itu dipastkan tidak bisa diwujudkan melalui poligami. Dalam al-Qur’an, masih dalam surat Al-Nisâ’, disebutkan, “Falâ tashtathî’u ‘an ta’dilû baina al-nisâ’ walau haratstum” (engkau tidak akan mampu berbuat adil atas perempuan meski engkau berusaha keras untuk itu). Jadi keadilan tidak akan mungkin terwujud melalui praktik-praktik poligami. Sinta menyatakan bahwa poligami secara eksplisit tidak diperkenankan menurut al-Qur’an. Ia juga menyebut banyak hadits Nabi Saw yang tidak membolehkan poligami. Sebagai contoh, ketika Ali ra minta izin untuk menikahi Juwairiyyah Rasulullah langsung menolak. Dia tidak mengizinkan karena Fatimah (istri Ali, anak Rasulullah) adalah bagian dari Nabi. Nabi itu tegas-tegas mengatakan sampai tiga kali tidak mengizinkan. Itu tentu berarti poligami tidak diperkenankan. Kalaupun ada pandangan populer bahwa poligami adalah bagian dari ajaran Islam, Sinta memastikan pandangan itu salah dan kesalahan terjadi karena ayat al-Qur’an diartikan secara tektual seperti halnya membaca secara letterlijk, dan ditambah lagi ada kepentingan laki-laki (male-biased) di dalamnya. Maka akibatnya adalah muncul pandangan populer yang salah, jadi bukan dilalah-nya (maksud utama) yang ditonjolkan. Sinta menyebutkan salah satu tujuan Allah mengutus Nabi adalah untuk membebaskan kaum perempuan dari belenggu-belenggu yang mengikat. Setelah belenggu mulai terbuka dan teratasi, Nabi wafat, sayangnya muncul kembali keinginan laki-laki untuk menguasai perempuan. Sinta mencontohkan adanya hadits yang menyebutkan, bahwa malaikat akan melaknat perempuan semalam suntuk bila menolak “ajakan” suaminya. Menurut Sinta hadits ini justeru menunjukkan kelemahan laki-laki sebab tidak berani kepada perempuan. Untuk melakukan hubungan seksual saja laki-laki harus meminta bantuan laknat malaikat. Tak Terhalang Keterbatasan Fisik Ibu dari empat orang putri Alissa Qotrunnada Munawaroh (Lissa), Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny), Anita Hayatunnufus (Nita), dan Inayah Wulandari (Ina), ini tergolong aktivis organisasi. Ia adalah anggota Kongres Wanita Indonesia (Kowani) yang merupakan federsi berbagai organsiasi wanita di Indonesia, juga anggota Komite Nasional Kedudukan Wanita Indonesia (National Commission on the Status of Women). Bersama organisasi-organisasi lain, sebelum mendirikan Yayasan PUAN Sinta sudah aktif memperjuangkan kepentingan-kepentingan perempuan. Hanya saja ia tidak mengerti betul apa yang menjadi tujuan perjuangan organisasi tersebut. Ia pun merasa sesungguhnya tidaklah tertarik untuk terjun ke dalam perjuangan perempuan. Perubahan besar baru dapat dialaminya setelah mengkaji Kitab Kuning tadi, lalu iapun mendirikan Yayasan PUAN Amal Hayati. Di Yayasan ini Sinta mulai sangat mengerti betul, dan sekaligus ingin berjuang membela kepentingan perempuan baik perempuan yang berada di dalam maupun di luar rumah tangga yang sama-sama banyak mendapat ketidakadilan. Keterbatasan gerak fisik akibat kecelakaan tak menghambat munculnya ide-ide segar dari Sinta Nuriyah. Kegigihannya berjuang menempatkan wanita Indonesia pada posisi yang terhormat justru makin mencuat setelah secara fisik ia tidak dapat berbuat apa-apa. Padahal tugas rutin mendampingi seorang tokoh yang sangat dan selalu kontroversial, Gus Dur, itu tak kurang rumitnya. Kecelakaan mobil tahun 1993 memang membuat Sinta harus berada di kursi roda. Ia mengalami kelumpuhan tak dapat menggerakkan bagian tubuh dari leher hingga kaki. Ia membutuhkan waktu satu setengah tahun perawatan untuk dapat dikatakan sembuh, walau harus tetap menggunakan alat bantu kursi roda. Tentang kelanjutan kuliahnya di UI Sinta pernah meminta pihak kampus agar memberikan kelonggaran dengan menyediakan ruang kuliah khusus baginya, yang dapat dijangkau kursi roda seperti di lantai bawah. Namun permintaan itu tak dapat dipenenuhi dan Sinta harus kuliah di lantai empat. Maka ketika sudah semester empat Sinta yang bertekad menyelesaikan kuliah dengan rendah hati sadar, ialah yang membutuhkan belajar bukan pihak kampus. Iapun bersedia kuliah di lantai empat. Tapi apa mau dikata lift kampus kemudian rusak. Tapi Sinta tak mau kehilangan akal. Ia kemudian memasuki ruang kuliah layaknya Jenderal Sudirman saat berjuang melawan penjajah, yakni digotong di atas tandu dinaik-turunkan dari bawah ke lantai empat dan sebaliknya. Kejadian seperti itu berlangsung satu semester penuh menunggu hingga liftnya selesai diperbaiki. Bersuamikan Pria Romantis Sinta sangat sadar ia bersuamikan seorang pria yang sangat kontroversial. Karena kontroversial itu banyak yang suka dan banyak pula yang tak suka terhadap suaminya. Gus Dur ketika menjabat Presiden banyak disanjung-sanjung hingga diberi gelar sebagai “Bapak Bangsa”. Namun serta-merta Sinta menolak jika disebut pula sebagai “Ibu Negara”. Sinta beralasan, yang namanya “ Ibu Bangsa” tidak selalu harus pasangan dari “Bapak Bangsa”. Sebab bisa saja istri dari “Bapak Bangsa” kadang-kadang berpendidikan rendah sehingga tidak layak disebut “Ibu Bangsa”. Walau menolak disebut “Ibu Bangsa” Sinta Nuriyah sangatlah berperan besar menunjang karir dan kesuksesan Gus Dur di kancah politik nasional. Ia berprinsip sederhana, seorang istri kalau bisa menciptakan ketenangan dalam rumahtangga berarti suami akan tenang. Jika di luaran Gus Dur banyak memainkan jurus-jurus ‘silat’ perpolitikan nasional, di rumah Sinta menawarkan tema pembicaraan keluar dari politik untuk masuk ke hal yang ringan- ringan. Namun jika Gus Dur yang, kata Sinta ia tergolong pria romantis, itu memasuki pembicaraan area politik maka Sinta yang menguasai aktif bahasa Inggris, Arab, dan Perancis tetap mau meladeni dan mampu pula menanggapinya. Sinta pun menjadi bisa memahami segala kegiatan Gus Dur. Diskusi adalah cara yang jitu bagi Sinta untuk bisa mengerti tentang Gus Dur. Setiap muncul ide-ide Gus Dur yang mendapat sorotan luas dari amsyarakat maka Sinta akan mencoba memahami, atau paling tidak keduanya berdiskusi dulu. Diskusi seolah telah menjadi ‘menu’ pengganti keromantisan Gus Dur, yang menjadi semakin sibuk sejak terpilih menjadi Ketua Umum PBNU. Jika Gus Dur ‘sibuk’ sendiri maka Sinta sebagai ibu yang baik akan tetap telaten mendidik anak-anak dan memelihara keharmonisan rumahtangga. Sinta kerapkali memperlakukan Gus Dur sebagai teman yang baik, sebagaimana pernah ia tuangkan dalam tulisan “Sehari Bersama Abdurrahman Wahid”. Itu, adalah sebuah artikel reportase hasil ‘ investigasi’ Sinta saat mengikuti keseharian kegiatan Gus Dur kemanapun suaminya pergi. Sinta, selain aktivis organisasi ternyata pernah pula berprofesi sebagai wartawan, yakni pada tahun 1980- 1985 di Majalah “Zaman”. Profesi itu harus berhenti karena majalahnya ditutup, Sinta lalu sempat bekerja untuk Sybah Asa ( Tempo). Hidup diijinkan Sinta mengalir begitu saja tanpa harus dipersiapkan menjadi ini atau menjadi itu. What ever wil be, will be, kata Sinta. Prinsip what ever will be semakin ketika ia ‘harus’ menjadi “First Lady” Indonesia, sesuatu yang sesungguhnya tidak pernah ada dalam kamus dan skenario hidup Sinta. Maka itu ketika Gus Dur diminta mundur tahun 2001 Sinta dan keluarga tak perlu berkecil hati. Ia malah menganjurkan Gus Dur agar secepatnya saja mundur. Ia dan anak-anak tak harus shock atau down, karena sejak sebelum menjadi Presiden pun mereka sudah terbiasa akan kontroversialitas Gus Dur. Apalagi, Gus Dur yang diminta menjadi Presiden maka ketika diminta tidak lagi menjadi Presiden pun menjadi tidak apa-apa pula. Sinta sudah menyerahkan hidup secara total ke dalam perlindungan Tuhan. Maka tak heran jika Sinta yang gemar membaca, sehingga kerapkali dikirimi buku ‘silat asli’ dari Cina oleh Gusdur sampai kecanduan, itu sesekali masih mau turun ke jalan berdemonstrasi sebagaimana kebiasaannya saat menentang pemerintahan Soeharto. Sinta sangat percaya akan suaminya. Karena itulah isu perselingkuhan yang dituduhkan pada Gus Dur yang disertai dengan bukti-bukti otentik segala, itu tak membuat Sinta goyah. Ia tetap percaya, memahami, hingga mengagumi suami. Sebagai tokoh kontroverisial Sinta paham banyak yang ingin menjatuhkan suaminya. Salah satunya menggunakan perempuan, untuk mengusung isu perselingkuhan yang ternyata tidak terbukti kebenarannya. Tanpa selingkuh pun, kata Sinta, sudah banyak orang yang menawari suaminya kawin lagi. Orang itu sekaligus menyodorkan anaknya segala, atau siapanya kepada Gus Dur sebab katanya untuk ngalap berkah. ►ti/ht

18.1.10

Soewanto widjaya,orang gila masa kini

Belum begitu lupa dari ingatan kita kepada Salman rusdie yang menyerang islam dan nabi Muhammad SAW lewat bukunya,Satanic verses yang mengakibatkan pemerintah iran menjatuhkan fatwa hukuman mati kepadanya.
Kini,tak perlu jauh jauh ke Iran untuk mengenang kebusukan Salman rusdie,karena disini kita menemukan Soewanto widjaja,duplikatnya salman rusdie.ia adalah budhis medan(profil di akun fesbuk) yang getol melecehkan islam dan Rosululloh S.A.W.selain di fesbuk,orang dungu ini melancarkan fitnahnya terhadap muslimin lewat jejaring twitter dan sebuah blog di wordpress dengan nama BERITA MUSLIM SAHIH,dari nama blog yang di pakai,ini adalah nyata bahwa selain memprovokasi antar umat beragama,Soewanto widjaja berniat menyebarkan kesesatan pemahamannya terhadap islam kepada orang lain.
Sebenarnya kita tidak terlalu kaget dengan munculnya orang dungu ini,karena dalam islam ini bukan fenomena baru,karena dari dahulu sudah ada ratusan orang yang rajin menghujat dan menyebarkan kebohongan tentang Islam,Alqur'an,nabi Muhammad dan bahkan Allah S.W.T lewat berbagai cara,pola dan modus serta media yang berbeda beda.dan hasilnya TIDAK PERNAH BERHASIL melemahkan dan menistakan Islam yang Ya'lu wala yu'la alaih,kecuali hujatan balik dan antipati dari masyarakat muslim kepada pelaku penistaan agama tersebut.dan ini merupakan 'reaksi wajib' dari umat islam apabila agamanya dilecehkan.
Disini saya melihat peran pemerintah melalui aparat terkait belum kelihatan menangani kasus penodaan dan penistaan terhadap agama oleh Soewanto dan timnya. Mungkinkah pemerintah kita menunggu kerusuhan antar agama terjadi,dan baru ditangani?.
Mengenai diri soewanto widjaja,saya pribadi tidak mengenal dekat secara personal.tapi demi melihat apa yang keluar dari liarnya pemahaman dan pemikirannya mengenai islam,saya jadi berpikir kemungkinan besar Soewanto mempunyai masalah serius dengan psikhis dan kepribadiannya.bisa jadi Soewanto sejak kecil kurang mendapatkan perhatian dari keluarga,lingkungan dan komunitasnya,hingga Soewanto kini memilih jalan sendiri untuk mencuri perhatian tersebut.dan ini berhasil,Soewanto telah mendapatkan perhatian publik dengan pola berpikirnya yang urakan dengan rasa tanpa dosa menghina agama.

4.1.10

muhamad,PEMBENCI GUSDUR dari Petarukan.


"Alhamdulillah,salah satu tokoh liberal,syi'ah,kristen,yahudi Gusdur meninggal dunia pada pukul 18:45 di RS Cipto mangunkusumo Jakarta"
itulah sms yang saya terima beberapa jam setelah KH.Abdurrahman wahid diberitakan telah tiada.sebelumnya saya tak menyangka,sms pelecehan terhadap Gusdur,yang dikirimkan oleh Muhamad bin Mubarok kepada saya,akan menyebar luas kepada para Nahdliyyin di Petarukan dan sekitarnya.padahal sms terkutuk itu saya forward hanya kepada 6 orang.itupun kepada teman2 yang berdomisili diluar Petarukan.dan saya memforward sms tersebut karena saya merasa tidak kuasa menghadapi hujatan (yang dialamatkan kepada Gusdur,sang Guru bangsa) sendirian.karena Gusdur itu bukan cuma saya sendiri yang mengagumi,menghormati dan menjadikannya guru dan panutan,tapi semua warga Nahdliyyin dan sebagian masyarakat Indonesia pada umumnya.jadi Gusdur itu bukan cuma 'milik' saya!.
bagaimana hati saya bisa tahan,disaat semua mata berkaca2 larut dalam suasana dukacita yang mendalam,kok sampai hati mengirim sms keji tersebut! Padahal muhamad itu tahu dan paham betul kalau saya itu pengagum dan pengikut Gusdur.lalu niatnya apa?kalau bukan memprovokasi?.kalau saja Gusdur masih ada,saya tentu tidak semarah ini,karena gusdurlah yang akan menghadapi hujatan itu sendiri.lah sekarang,Gusdurnya sudah wafat masih dihujat dan dilecehkan,siapa lagi yang akan membela?.sungguh aku tak habis pikir dengan makhluk bernama Muhamad tersebut,dia malah balik menyalahkan saya karena saya telah memforward smsnya kepada teman teman saya.seharusnya dia gak perlu kuatir dengan smsnya yang kukirim ulang tersebut jika smsnya itu benar,baik dan tidak mengandung unsur pelecehan kepada orang lain,apalagi yang dilecehkan itu seorang tokoh agama yang juga merupakan tokoh nasional,dan baru wafat pula!.
Akhirnya,hanya kepada Allah kita mohonkan petunjuk,dan kepada kekasihNya kita berharap akan syafa'at.semoga kita semua bisa lebih ta'dhim kepada para sesepuh dan bisa memulyakan mereka yang telah mendahului kita.
Man lam yahzan bimautil 'aalim,fahuwa munaafiq.

Get this blog as a slideshow!