31.3.11

Kerikil kecil Dan Uang Dari Tuhan



Seorang Pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas pohon yang sangat tinggi . Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang berada dibawahnya. Pekerja itu berteriak - teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin -mesin dan orang- orang yang bekerja , sehingga usahanya sia -sia .
Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada dibawahnya , ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya . Temannya berhenti bekerja , mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang kedua pun memperoleh hasil yang sama.
Tiba -tiba dia mendapatkan ide . Ia mengambil batu kecil lalu melemparkan ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya , dan karena merasa sakit temannya menengadah ke atas ? Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.
*** Allah kadang -kadang menggunakan cobaan- cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepada -Nya.
Seringkali Allah melimpahi kita dengan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepada-Nya .
Karena itu , agar kita selalu mengingatkan kepada -Nya, Allah sering manjatuhkan “ batu kecil ” kepada kita . ============================================
Sumber artikel, dari buku : Sudarmono, Dr. ( 2010 ) . Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta : Idea Press . Volume 2 . Hal . 395 -396 . ISBN 978 -6028 -686 -938 .

30.3.11

AGAMA , ISTRI TETANGGA DAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA


* AGAMA Dan ISTRI TETANGGA. *
* Buah Pemikiran CAK NUN *

** * Saya teringat waktu lebih dari 15 tahun yang lalu ketika belajar Di Jogja . Waktu itu , tiap Rabu malam, saya Dan teman -Teman memilih nglurug ke patang puluhan , rumahnya Cak Nun, ini panggilan akrabnya penyair Dan kiai Mbeling Emha Ainun Nadjib. Kita bikin forum melingkar di situ . Biasanya Kita bicara soal kesenian atau kebudayaan, Tapi juga ngobrolin soal keagamaan . Forum itu diprakarsai oleh Sanggar Shalahuddin . Komandannya anak Solo , Nasution Wahyudi. Ini nama asli Jawa , nggak Ada hubungannya dgn Nasution Yang dari Medan.. Pesertanya juga tidak cuma Mahasiswa atau pemuda yang beragama Islam. Pendek Kata , pemeluk berbagai agama berkumpul melingkar disitu.
Suatu malam, Cak Nun tanya pada kami di forum itu. " Apakah anda semua punya tetangga ?"
Wah, saya sebenarnya belum punya . Tetapi saya anak kost, tentu saja kamar sebelah saya bisa disamakan dengan tetangga. Tetangga kost . Jadi saya ikut -ikutan saja menjawab : " Tentu saja punya ".
Cak Nun melanjutkan bertanya : " Punya istri enggak Tetangga Anda ?" Sebagian hadirin menjawab : " Ya, punya dong ". Saya diam saja. Rasanya tetangga kost saya bujangan Semua. Kebanyakan jomblo . Maklum anak desa. Nggak pede ngajak pacaran teman kampusnya.
Yang menarik adalah pertanyaan berikutnya : " Apakah anda pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu? Jari -jari kakinya lima atau tujuh ? Mulus atau ada bekas korengnya ?"
Saya mulai kebingungan . Nggak ngeh sama arah pembicaraan Cak Nun . Kebanyakan menjawab : " Tidak pernah memperhatikan Cak . Ono opo Cak ?"
Cak Nun ndak peduli . Dia tanya lagi : "Body- nya sexy enggak?"
Kami tak lagi bisa menahan tertawa . Geli deh . Apalagi saya yang benar - benar tidak faham arah Pembicaraan sang Kiai mbeling itu. Cuma Cak Nun yang tersenyum tipis . Jawabannya bagus banget. Dan ini senantiasai saya ingat sampai hari ini.
Sebuah prinsip pergaulan untuk sebuah Negeri yang memilih Pancasila : "Jadi ya begitu . Jari kakinya lima atau tujuh . Bodynya sexy atau tidak bukan Urusan Kita , kan? Tidak usah Kita perhatikan , tak usah Kita amati , tak usah kita dialogkan, diskusikan atau bahkan di perdebatkan . biarin saja ".
" Kenapa cak ?" salah satu teman bertanya , penasaran .
" Ya apa urusan Kita ? Nah , keyakinan keagamaan orang lain itu ya ibarat istri orang lain . ndak usah diomong - omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya , mana yang lebih unggul atau apapun . Tentu , Masing -masing suami punya penilaian bahwa istrinya begini - begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan didalam hati saja ".
Saya pun menangkap apa yang dia maksudkan .
Saya setuju dengan pandangan Cak Nun.
Dia melanjutkan serius : "Bagi orang non -Islam, agama Islam itu salah . Dan itulah sebabnya ia menjadi orang Non -Islam . Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa Islam itu benar ngapain dia jadi non - Islam ? Demikian juga , Bagi orang Islam , agama lain itu salah , justru berdasar Itulah maka ia menjadi orang Islam. Tapi , sebagaimana Istri tetangga , itu disimpan saja didalam hati , jangan diungkapkan , diperbandingkan , atau dijadikan bahan Seminar atau pertengkaran . Biarlah setiap orang memilih istri sendiri - sendiri , Dan jagalah kemerdekaan masing -masing orang untuk menghormati dan mencintai istrinya masing - masing , tak usah ngeyel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya karena bapaknya dulu sunatnya pakai calak dan bukannya pakai dokter, umpamanya . Dengan kata yang lebih jelas, Teologi agama- agama tak usah dipertengkarkan , biarkan masing -masing pada keyakinannya . "
Mengasyikkan . Saya kagum dibuatnya .
Cak Nun terus berkata : "Itu prinsip Kita dalam memandang berbagai agama. Sementara itu orang Muslim Yang mau melahirkan padahal motornya gembos , silakan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk mengantar istrinya ke rumah sakit. Atau, pak Pastor yang sebelah sana karena baju misanya kehujanan, padahal waktunya mendesak, dia boleh pinjam baju koko tetangganya Yang NU maupun yang Muhamadiyah . Atau ada orang Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha , Kemudian bareng -bareng bawa colt bak ke pasar dengan Tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya . Begitu ."
Kami semua terus menyimak paparannya . " Jadi ndak usah meributkan teologi agama orang lain. Itu sama aja anda ngajak gelut tetangga anda . Mana Ada orang yang mau isterinya dibahas Dan diomongin Tanpa ujung pangkal .
Tetangga-tetangga berbagai pemeluk agama, warga berbagai parpol, golongan, Aliran, kelompok , atau apapun , silakan bekerja sama di bidang usaha perekonomian , sosial, kebudayaan , sambil saling melindungi koridor teologi masing - masing . Kerjasama itu dilakukan bisa dengan memperbaiki pagar bersama- sama , bisa gugur gunung membersihkan kampung, bisa pergi mancing bareng bisa main gaple dan remi bersama . Tidak ada masalah lurahnya Muslim , cariknya Katolik, kamituwonya Hindu , kebayannya Gatholoco, atau apapun . Itulah lingkaran tulus hati dengan hati . itulah maiyah , " ujarnya .
Ketika mengatakan itu nada Cak Nun datar , nyaris tanpa emosi . Tapi serius dan dalam .
Saya menyimaknya sungguh - sungguh . Dan saya catat baik - baik dalam hati saya.
Sayangnya dunia memang tidak ideal. Di Ambon dan Palu , misalnya saya lihat terlalu banyak orang usil mengurusi 'isteri tetangga'nya. Begitu juga di berbagai tempat di dunia . Di Bosnia . Atau yang paling baru di Irak dan Afghanistan . Akibatnya ya perang dan hancur - hancuran. Menyedihkan .
Sangat menyedihkan. *

Cerita Kang Bangkak Dan Mbah Lalar



( Oleh: Zainal Wong Wongan )

Wuaaah nyetil amat ? mau kemana Mbah ? Tanya Kang Bangkak.

Mbah Lalar cuma senyum .. . .

Mau Maulidan ya? Desak Kang Bangkak.

Ah biasa , mau ikut? Gantian Mbah Lalar yang bertanya menawarkan.

Gak ah !!! Ana gak mau bid'ah - bid'ahan, jawab Kang Bangkak ketus.

Gak kok cuma pengajian , masa sieh menghadiri pengajian bid'ah? ini nanti yang ceramah Kyai Doktor dari Madinah lho , rayu Mbah Lalar,

Gak juga sieh, tapi beneran cuma pengajian ? Ana ikut deh Mbah .. .

Sesampainya ditempat duduk , pas acara pembacaan tahlil Kang Bangkak udah melirik Mbah Lalar , curiga .. .

Mbah Lalar tersenyum dan berkata , biasa aja lagi , ini kan baru pembukaan, ya itung -itung mendoakan arwah para muslimin , kan tahlilan bukan harus pasca kematian, sabar aja deh . . . .

Kang Bangkak diam kelihatan bingung .

Yang ini apalagi Mbah ?

Oh ini biasa pembacaan biografi Nabi Muhammad dengan bahasa arab, jawab Mbah Lalar tenang.

Kok dilagukan?

Iya biar tambah asyik, namanya juga prosa, wagu dong kalo gak dilagukan, jelas Mbah Lalar,

Kang Bangkak diam .

Lama -lama Kang Bangkak manggut -manggut juga , seiring lantunan simtudduror tangan dan kakinya ikut bergerak -gerak,

Mbah Lalar bergumam, rasain lo !

Apa Mbah ?! Oh eh. . . .. . , acara kajian kenapa lama ya? Kok jadi gak sabaran sieh Mbah ?

. . .

. . Selang gak lama pengajianpun dimulai . Kang Bangkak dengan seksama mendengarkan walaupun sekali -kali keliatan mengernyitkan jidat tanda tak paham ketika sang penceramah menggunakan kalimat -kalimat istilah fiqih .

Ditengah - tengah perjalanan pulang Mbah Lalar bertanya , Gimana Kang kajian tadi ?

Wah kajiannya hebat , asyik juga Mbah , jawab Kang Bangkak polos .

Kalau ada lagi mau gak ?

Insya Allah ana suka Mbah , ajak ana lagi ya Mbah. . . .

Insya Allah dengan senang hati . .. .

Tapi ngomong -ngomong tau gak kamu kalau orang- orang menyebut acara tadi dengan istilah Maulidan ?

Kang Bangkak mlongo dengan bibir bergetar. . . . .

28.3.11

IPNU-IPPNU Kecamatan Pemalang gelar Konferancab di Desa Danasari



Ikatan Pelajar Nadlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nadlatul Ulama ( IPNU - IPPNU) di Kecamatan Pemalang , di Madrasyah Diniyah Awaliyah ( MDA ) Nahdatus Subaniyah Desa Danasari , Minggu ( 27 /3 ) , menggelar acara Konferensi Anak Cabang ( Konferancab ) .
Acara tersebut dilaksanakan dalam 2 hari dengan berbagai macam agenda yang akan dilaksanakan . Koordinator Seksi Pengkaderan IPNU -IPPNU Kecamatan Pemalang Inta Hidayat selaku panitia penyelenggara Konferancab menuturkan , acara Konferancab IPNU – IPPNU sedang diselenggarakan meliputi banyak agenda yang akan dilaksanakan di antaranya acara pelantikan ranting IPNU - IPPNU Desa Danasari , Pelantikan Kader Muda ( Lakmud) . “Agenda inti acara ini adalah Konferancab IPNU – IPPNU ke XXIV yaitu dilaksanakannya pemilihan pengurus baru untuk menggantikan pengurus periodesasi tahun 2009 -2011 , yang kini sudah memasuki akhir masa bhaktinya , ” kata Intan .
Dai menjelaskan, alasan mengapa acara Konferancab itu diselenggarakan di Desa Danasari . Sebab, menurutnya untuk membentuk pengurus di desa tersebut karena dari sejumlah desa dan kelurahan yang ada di wilayah Kecamatan Pemalang , hanya satu desa yiatu Desa Danasari yang belum ada kepengurusannya. “Padahal desa ini mempunyai keunikan, yaitu tradisi masyarakatnya yang sudah NU, tapi belum ada lembaga NU, sehinga perlu dibentuk pengurus ,” jelasnya .
Alasan lain, lanjut dia , dibentuknya sebuah lembaga NU di Desa Danasari karena untuk menjadikan magnet atau daya tarik masyarakat agar bisa bergabung dalam NU , sehingga nantinya akan tercipta kebersamaan dalam lembaga NU sebagai rumah besar para alim ulama dan kiai yang tradisi kehidupan masyarakat di desa ini adalah NU . “Acara Konferancab ini diselenggarakan selama dua hari mulai tanggal 26 sampai dengan 27 Maret 2011 dan adapun peserta dalam acara ini adalah ranting dan komisariat IPNU - IPPNU di seluruh Kecamatan yaitu sekolah -sekolah di bawah naungan LP Ma’ arif, ” paparnya. ( apt /radartegal.com )

GP Ansor kabupaten Pemalang Gelar Donor Darah



Hari lahir ( harlah ) Gerakan Pemuda ( GP ) Ansor ke– 77, dirayakan PAC Kecamatan Pemalang bekerjasama dengan Pemerintah Desa Sewaka , menggelar kegiatan donor darah di halaman balai desa setempat, Minggu ( 27/3 ) kemarin . Donor darah kemarin juga dihadiri Ketua GP Ansor Kabupaten Pemalang , Imron Khudori .
Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Pemalang , M Subhan kepada Radar mengungkapkan , untuk mendekatkan pada masyarakat serta dalam rangkaian harlah GP Ansor , diadakan bermacam kegiatan. Seperti halnya di Desa Sewaka diselenggarakanya donor darah untuk masyarakat sekitar . “Harlah kali ini mengambil tema ‘ Penegakan Aswaja Menuju Islam Rahmatan Lilalamin Dalam Bingkai NKRI ’ , mengingat banyaknya aliran yang merongrong keutuhan Negara Indonesia , ” paparnya .
GP Ansor Pemalang merasa sangat prihatin dengan banyaknya aliran dengan mengedepankan kekerasan . Sehingga berakibat merongrong kestabilitasan negara. Hal ini tidak sesuai dengan ajaran Ahlussunah Waljamah ( Aswaja) , yang mengedepankan Islam dalam wajah yang ramah.
Subhan menambahkan, rangkaian harlah pada Sabtu ( 23/4 ) akan diadakan doa bersama untuk keselamatan bangsa , dan akan dihadiri para tokoh Nahdlatul Ulama se- kabupaten Pemalang di Gedung PCNU Pemalang . Kemudian pada Minggu ( 24 /4 ) akan diadakan pembagian paket sembako untuk 20 desa se Kecamatan Pemalang . ( hsn/www.radartegal.com )

27.3.11

Kesederhanaan Rapat Pleno PBNU Di Pesantren Krapyak,Yogyakarta.



Suasana santri di Pesantren Al -Munawwir Krapayak, Yogyakarta makin terasa ketika pesantren warisan mantan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ali Ma’shum ini ditempati sebagai tuan rumah hajatan besar tahunan ‘Rapat Pleno’ yang digelar oleh PBNU .
Di pesantren ini sejak Sabtu ( 26/ 3) pagi kemarin sudah berdatangan para kiai sepuh NU dari berbagai daerah di Indonesia . Misalnya ada KH Chalid Mawardi, Prof KH Chtibul Umam , KH Abdul Muhaimin Zein , KH Turmudzi Bahruddin ( NTB ) dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan namanya satu -persatu .

Menjadi ' Reuni para Kiai '.
Sebagaimana kehidupan di pesantren, para kiai dan peserta Rapat Pleno sekitar 200 orang ini sejak awal sudah mengetahui jika dirinya menuju pesantren dari rumah masing- masing. Karena itu begitu sampai di Krapyak , para kiai tersebut tidak kaget jika harus istirahat di satu kamar 4 orang , bareng dengan para kiai atau peserta yang lain . Demikian pula mandinya . Mereka begitu masuk kamar sudah disediakan satu tas , yang berisi: gayung , sabun , pasta gigi, sampo , handuk, satu kasur, satu bantal dengan sarungnya yang berwarna putih dll.
Panitia memang sudah menyiapkan satu kamar untuk 4 orang . Para kiai itu pun mesti mandi seperti ketika dulu beliau itu mondok di pesantren-pesantren. Yaitu , apa adanya, namun di Krapyak ini masih bagus ; airnya lancar, bersih dan tidak harus berantri panjang , karena kamar mandinya banyak, juga WC -nya . “Jadi, ya beginilah suasana santri ini penuh kekeluargaan, kesederhanaan, apa adanya, ikhlas dan tidak neko-neko ,” ujar KH Turmudzi singkat . Makan pun begitu. Para kiai harus antri dan tinggal pilih ; mau sarapan roti plus telur dengan susu, teh manis , kopi jahe, air putih dll. Atau mau makan nasi , juga tinggal memilih . Untuk urusan konsumsi ini tampaknya tidak sulit. Sebab, kalau pun mau mencari makanan yang lezat , juga tinggal jalan kaki untuk mencari makanan sesuai selera, di mana di depan jalan raya pesantren ini sudah banyak warung -warung yang menyediakan aneka menu makanan dan minuman yang lezat .

Penuh Kesederhanaan.
Rapat -rapat panitia pun dilakukan dengan lesehan di masjid atau di rumah kiai . Sehingga praktis semua dilakukan dengan sederhana ala pesantren. Bahkan rapat pleno juga dilakukan dengan lesehan. Hanya saja kini agak modern, jika harus dibilang demikian . Mengapa ? Di Pesantren Krapyak ini, internet sudah tersambung dengan baik . Karena itu bagi yang membawa Lap Top , tinggal klik saja, maka jaringan internet gratis akan tersambung . Selain ada warnet yang ada di depan pesantren.
Ber-Laptop
Bahkan para santri pun , ketika belajar sudah selesai di malam hari, mereka yang berasal dari berbagai daerah ini, yang mungkin orang tuanya mampu , secara bergerombol mereka menggunakan Lap Top dan main game seperti balap mobil, motor , perang- perangan dan sebagainya . “ Ya, boleh main game kalau sudah selesai belajar di malam hari ,” kata Shodiq , siswa kelas 1 SMP asal Cilacap , Jawa Tengah ini polos . Persoalan apakah penggunaan Lap Top dengan jaringan internet ini akan berdampak positif atau negative? Tentu harus dikaji lebih mendalam khususnya di lingkungan pesantren, di mana anak- anak adalah sedang tumbuh dan senang - senangnya bermain game.

NU Anti Liberalisme.
Dalam Sambutannya di rapat pleno,Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan , NU tetap menentang kelompok liberal dan ekstrimis . Keduanya bertentangan dengan semangat moderasi NU . “NU menganut faham tawassut , bukan liberal. Menurut saya, definisi Islam liberal itu kalau meninggalkan Qur ’ an dan hadist . Kalau masih berpulang pada keduanya , Islam yang rasional . Golonan mu’tazilah, ” katanya dalam rapat pleno PBNU , hari Ahad .
Kelompok liberal, menurutnya , bukan hanya mempengaruhi kehidupan agama, tetapi juga aspek kehidupan lainnya, dalam ekonomi, sosial, politik dan lainnya. “Ekstrim dan liberal sama- sama berbahaya , tapi kalau kelompok ekstrim lebih berbahaya , ” jelasnya . ( amf/mkf/NU Online )

24.3.11

Seorang Anak,Ayah dan Burung Gagak



Pada suatu sore seorang ayah bersama anaknya yang baru saja menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman rumah sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka .
Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon. Si ayah lalu menunjuk ke arah gagak sambil bertanya , “ Nak, apakah benda tersebut ?” “ Burung gagak ”, jawab si anak. Si ayah mengangguk -angguk, namun beberapa saat kemudian mengulangi lagi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit keras, “ Itu burung gagak ayah !” Tetapi sejenak kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama . Si anak merasa agak marah dengan pertanyaan yang sama dan diulang- ulang, lalu menjawab dengan lebih keras , “ BURUNG GAGAK !!” Si ayah terdiam seketika . Namun tidak lama kemudian sekali lagi mengajukan pertanyaan yang sama sehingga membuatkan si anak kehilangan kesabaran dan menjawab dengan nada yang ogah-ogahan menjawab pertanyaan si ayah, “ Gagak ayah .. . . . . . ”.
Tetapi kembali mengejutkan si anak, beberapa saat kemudian si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanyakan pertanyaan yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar kehilangan kesabaran dan menjadi marah. “ Ayah!!! saya tidak mengerti ayah mengerti atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah menanyakan pertanyaan tersebut dan sayapun sudah memberikan jawabannya . Apakah yang ayah ingin saya katakan ???? Itu burung gagak , burung gagak ayah . . .. . ”, kata si anak dengan nada yang begitu marah . Si ayah kemudian bangkit menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang terheran-heran.
Sebentar kemudian si ayah keluar lagi dengan membawa sesuatu di tangannya . Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih marah dan bertanya -tanya . Ternyata benda tersebut sebuah diary lama. “ Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam buku diary itu ”, pinta si ayah. Si anak taat dan membaca bagian yang berikut:
. . . . . . . . . . “ Hari ini aku di halaman bersama anakku yang genap berumur lima tahun . Tiba -tiba seekor gagak hinggap di pohon . Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, “ Ayah, apakah itu?” . Dan aku menjawab , “Burung gagak ”. Walau bagaimana pun , anak ku terus bertanya pertanyaan yang sama dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai 25 kali anakku bertanya demikian , dan demi rasa cinta dan sayang aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap bahwa hal tersebut menjadi suatu pendidikan yang berharga. ”
Setelah selesai membaca bagian tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu. Si ayah dengan perlahan bersuara , “ Hari ini ayah baru menanyakan kepadamu pertanyaan yang sama sebanyak lima kali , dan kau telah kehilangan kesabaran dan marah. ” ……………………

Hikmah : JAGALAH HATI KEDUA IBU DAN BAPAK , HORMATILAH MEREKA . SAYANGILAH MEREKA SEBAGAI MANA MEREKA MENYAYANGIMU DIWAKTU KECIL ============================================
Sumber artikel, dari buku : Sudarmono, Dr. ( 2010 ) . Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta : Idea Press . Volume 2 . Hal . 384 -385 . ISBN 978 -6028 -686 -938 .

7.3.11

OI Pemalang Di Deklarasikan


Organisasi masyarakat (ormas) Orang Indonesia atau OI yang pada awalnya merupakan perkumpulan para pengemar Iwan Fals, kini berkembang di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Pemalang.

Di Pemalang, OI tersebar di beberapa kecamatan. Di antaranya kelompok OI Pengabdi Kecamatan Pemalang dan OI Samsara dari Kecamatan Taman. Sementara kelompok yang lainnya adalah OI Okem, OI Komplek, OI Hitam Putih dari Kecamatan Bantarbolang yang ketiganya itu dari Desa Pegiringan. OI Anak Wayang dari Kecamatan Moga dan sejumlah kelompok OI lainnya yang belum terdaftar.

Ketua OI Kabupaten Pemalang Heri Dwi Yulianto menuturkan awal terbentuknya OI. Sebelumnya dimulai dari ide para fans Iwan Fals agar perkumpulannya punya manfaat. Akhirnya terbentuklah sebuah organisasi masyarakat yang diberi nama OI yaitu Orang Indenesia.

Kepengurusan OI mulai dari pusat dengan nama Badan Pengurus Pusat (BPP), di Propinsi Badan Pengurus Wilayah (BPW). Sedangkan di Kabupaten dan kota dengan nama Badan Pengurus Kabupaten atau Kota (BPK).

"Syarat khusus terbentuknya kepengurusan di kabupaten atau kota minimal harus ada tiga kelompok dan untuk setiap kelompok jumlah anggotanya ada 15 orang,“ katanya kepada Radar, kemarin.

Dalam perkembangnnya, lanjut dia, sebelum terbentuk BPK di Kabupaten Pemalang, sejumlah kelompok yang tersebar di masing-masing kecamatan sudah mulai bergerak dan banyak berkiprah di masyarakat, dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Seperti kegiatan penanaman pohon, sunatan massal, pawai ta’aruf dalam peringatan hari besar Islam, pengajian umum dan parade musik Iwan Fals serta peduli Merapi.

“Sekarang ini sedang dipersiapkan deklarasi OI Kabupaten Pemalang yang rencana akan digelar pada tanggal 24 April 2011 mendatang di Desa Pegiringan Kecamatan Bantarbolang dan dipusatkan di Lapangan Sepakbola setempat,” ungkapnya.


Deklarasi juga akan diwarnai berbagai macam kegiatan di antaranya penanaman pohon dan parade musik Iwan Fals. Sekaligus sebagai peringatan ulang tahun yang pertama. (apt)

1.3.11

Islam Nusantara, apa ya?


Itulah istilah yang diperbincangkan dalam seminar bertema NKRI, Aswaja , dan Masa Depan Islam Nusantara yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur di Surabaya, Selasa ( 22 /2 /2011 ) .
Dalam seminar untuk memperingati Hari Lahir ke-88 NU itu, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur ( PWNU Jatim ) " membedah " Islam Nusantara melalui sejumlah pembicara dari kalangan politisi, tokoh agama, dan kalangan akademisi. Politisi yang diundang adalah Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie serta parpol lain sebagai peserta aktif . Dari kalangan tokoh agama, ada Habib Rizieq ( Ketua Umum Front Pembela Islam) , Ustaz Ja`far Umar Thalib ( mantan Panglima Laskar Jihad) , dan KH Said Aqiel Siradj ( Ketua Umum PBNU ).
Sementara itu, dari kalangan akademisi antara lain ada Prof Yudi Latief ( Universitas Paramadina , Jakarta) , Prof Ali Haidar ( peneliti NU dari Unesa Surabaya) , dan akademisi lain sebagai peserta aktif. Agaknya, istilah "Islam Nusantara " yang dilontarkan NU itu tidak terlepas dari fenomena ideologis dengan hadirnya kelompok "baru" Islam di Jatim , seperti Hizbut Tahrir Indonesia ( HTI ) , FPI , Ikatan Ahlil Bait Indonesia ( Ijabi) , dan Ahmadiyah.
Dalam pengantar seminar , Rais Syuriah PBNU KH Hasyim Muzadi selaku pembicara utama menegaskan bahwa tiga sumbangan besar NU yang telah diakui dunia adalah menata hubungan negara dan agama, mabadi khoiro umma ( umat yang berkarakter baik) , dan penguatan sipil. "NU membawa Islam dalam konsep seperti yang didakwahkan para Walisongo di kawasan Nusantara hingga konsep Islam ala NU itu kini dikenal dunia di seantero dunia, " kata Presiden Agama-agama Dunia itu .
Dalam menata hubungan negara dan agama, NU mementingkan agama dalam konteks nilai -nilai sehingga Indonesia bukan negara sekuler dan bukan negara agama, melainkan agama dan nilai-nilai agama pun berkembang dengan baik. "Bahkan , nilai-nilai agama itu akhirnya mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga agama tidak sekadar ritual , tetapi ada dalam kehidupan masyarakat sebagai Rahmatan Lil Alamin," katanya. Oleh karena itu, kata pengasuh Pesantren Mahasiswa Al Hikam di Malang dan Depok itu, para pemimpin Indonesia yang ingin mempertahankan NKRI hendaknya membesarkan NU dan pesantren.
Rahmatan Lil Alamin Pernyataan Hasyim Muzadi itu "diamini " Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie ( Ical ) dan Ketua Umum FPI Habib Rizieq . Bahkan , keduanya mengaku merasa aman dengan NU. "Saya merasa tenang dan nyaman berada di NU karena itu saya setuju dengan pernyataan Pak Hasyim Muzadi ( Islam Rahmatan Lil Alamin yang mengedepankan nilai-nilai ) , bahkan saya berharap NU berkembang di seluruh Indonesia seperti di Jatim ," kata Ical.
Di hadapan 500-an pengurus NU se- Jatim , mantan Menko Kesra itu mengaku gundah menyikapi kehidupan berbangsa yang penuh intrik dan fitnah serta kekerasan. "Intrik , fitnah, dan kekerasan membuat hidup kita tidak enak. Oleh karena itu, saya berharap NU menjadi penjaga bangsa , garda bangsa yang mengedepankan nilai-nilai agama, sehingga NU menjadi perekat kemajemukan, " katanya. Senada dengan itu, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum menyatakan , NU merupakan "jangkar persatuan" dalam kemajemukan masyarakat Indonesia dalam suku, budaya, bahasa , dan sebagainya . "Kalau konsisten pada tradisi berpikir , NU akan menjadi pilar bagi eksistensi Indonesia sehingga kita akan maju dalam politik yang diarahkan pada dua hal , yakni kemajuan ekonomi dan karakter . Saya kira NU berperan besar dalam pendidikan karakter lewat pesantren, " katanya.
Hal itu juga diakui Ketua Umum FPI Habib Rizieq . "NU adalah 'rumah besar Aswaja' di dunia dan pimpinan NU adalah orangtua sendiri . Kami sangat mencintai NU karena NU itu rumah besar kami dan pimpinannya adalah orangtua kami, " katanya. Oleh karena itu, ia mengajak NU dan para ulama untuk menjaga Indonesia dari intervensi pihak luar yang memasukkan aliran sesat dan pikiran liberal. "Islam sampai sekarang tetap damai dan toleran. Istilah bahwa Islam radikal , kekerasan agama ( Islam) , teroris ( Islam ) , dan fundamentalis ( Islam) itu hanya diskriminasi yang sengaja menyudutkan Islam . Sebab, kalau pemberontak di Filipina selatan dan Thailand itu non -Islam atau Israel mengebom tidak disebut teroris, " katanya. Pandangan agak berbeda datang dari Prof Ali Haidar . "Islam politik tidak mungkin berkembang bagus di Indonesia seperti di Timur Tengah karena Islam berkembang di Indonesia melalui budaya sehingga Islam politik tidak mengakar di Indonesia, " tandasnya.
Namun, Guru Besar Universitas Paramadina Jakarta, Prof Yudi Latief, melihat NU memiliki keunggulan. "Islam secara politik di Indonesia memang kurang bernasib bagus , tetapi Islam secara kekuatan sipil cukup bagus . Buktinya , aturan tentang zakat , pernikahan , perbankan , dan sebagainya berkembang tanpa masalah ," katanya. Agaknya, Islam Nusantara yang dilontarkan NU adalah Islam yang pernah dikembangkan Walisongo, yakni bukan Islam politik seperti konsep "negara Islam", melainkan mengembangkan nilai-nilai Islam untuk mewujudkan "masyarakat Islam" sehingga tidak terjadi benturan budaya karena Islam justru menjadi Rahmatan Lil Alamin ( rahmat bagi seluruh alam) . Editor : Jodhi Yudono Sumber : ANT(kompas.com)

Get this blog as a slideshow!